Selasa, 13 November 2012

Stigma Pengangguran bagi Ibu Rumah Tangga

Aku termasuk wanita yang sangat beruntung memiliki kesempatan menjadi fulltime mom bagi anak-anakku khususnya di masa kecil mereka. Dua putriku, Sasha (8 tahun) dan Naura (4 tahun), hampir sepenuhnya kurawat sendiri sejak hari pertama mereka membuka mata hingga saat ini. Memandikan, menyuapi, mengajak bermain, juga memarahi, hehe. Sungguh, betapapun menjadi dan menjalankan peran sebagai ibu adalah hal yang sangat indah dan membanggakan, ia bukan pekerjaan yang mudah. Justru sangat berat dan rawan stress.

Waktu kuliah dulu, saat sibuk dengan aktivitas kuliah dan kegiatan ekstra sampai tidurpun harus larut padahal aktivitas sudah dimulai sejak jam 6 pagi, terkadang aku mengeluh betapa berat dan capek. Ternyata, setelah menjadi ibu, semua yang terasa berat dan melelahkan waktu kuliah dulu seolah tak seberapa. Apalagi jika ditambah dengan proses panjang untuk menjadi ibu sejak hamil, melahirkan, menyusui dan seterusnya. Belum lagi beban social yang harus ditanggung karena menjadikan rumah sebagai kantor dengan pekerjaan sebagai Ibu (Rumah Tangga). 

Saat hamil, ada saat di mana aku merasa seperti terlempar dari langit, begitu terpuruk. Atau seperti pendekar yang tiba-tiba kehilangan kesaktiannya. Atau seperti pejabat yang tiba-tiba kehilangan jabatannya, kena post power sindrom. Terlalu dramatis kali aku menggambarkannya, hehe. Tapi yang pasti, ada shocknya juga, tiba-tiba gak punya tenaga, gak bisa makan, gak bisa ngapa-ngapain, padahal dulu ngapa-ngapain bisa, bisa makan apa aja, bisa kemana aja, yah something like that-lah. Saat melahirkan, gak salah deh kalau dibilang sebagai perjuangan hidup dan mati. 

Saat si kecil sudah lahirpun, aktivitas berat bisa jadi justru bertambah. Atas semua itu, sangat wajar jika Islam sangat memuliakan para Ibu. Tapi pada kenyataannya, aktivitas keibuan seringkali kurang dihargai. Salah satunya, beban social dari lingkungan masyarakat atau keluarga. Mungkin banyak yang mengalami lebih parah dari aku. Misalnya saja tanggapan keluarga. Ngapain capek-capek sekolah kalau cuma jadi ibu rumah tangga, tamat SMP juga bisa. Komentar kuno sih sebenarnya, tapi aku tetap sakit hati juga awal-awal dengernya Atau pernah pula aku “dikasihani” petugas perpus Bank Indonesia di kotaku. Katanya untuk bisa masuk ke sana, harus pake surat pengantar. Dengan polos kutanya via telepon, "Surat pengantar dari mana?"
Jawabnya dari kampus kalo aku mahasiswa, atau dari instansi tempat kerja kalo aku bekerja. Karena aku tidak masuk kategori keduanya, kutanya kalo ibu rumah tangga pake surat pengantar dari mana? Si petugas sesaat seperti bingung. Sama bingungnya dengan aku, kira-kira dari mana ya surat pengantar untuk Ibu Rumah Tangga, apakah dari RT/RW, terus kelurahan dst atau dari suami sebagai “atasan” ibu rumah tangga? Nah lo, sama bingungnya kan? Akhirnya, dengan nada suara kasihan, si petugas menjawab agar aku datang langsung saja ke sana. Hahh, ternyata jadi ibu rumah tangga tak punya banyak akses terhadap ilmu pengetahuan dan informasi di perpustakaan milik lembaga pemerintah.

Or di lain waktu ketika aku menyertakan tulisanku dalam sebuah lomba dan Alhamdulillah berhasil menjadi pemenang pertama, panitia harus telepon berkali-kali hanya untuk menanyakan apa pekerjaanku. Padahal sudah kujawab, Ibu Rumah Tangga. Karena lazimnya perempuan yang hanya di rumah di KTP ditulis untuk poin pekerjaan, ya Ibu Rumah Tangga. Entahlah, apakah mereka tidak percaya atau menganggap Ibu Rumah Tangga bukan pekerjaan dengan kata lain menjadi Ibu rumah tangga sama halnya dengan pengangguran???

9 komentar:

  1. Balasan
    1. setiap ibu pasti punya cerita "keren"-nya masing-masing Mbak :)eh, blog Mbak Naqi keren juga lho...

      Hapus
  2. Assalamu'alaykum, salam kenal. tulisan2nya menginspirasi mbak

    BalasHapus
  3. Waalaikumsalam, salam kenal kembali, terimakasih sudah mampir Mbak Hida :)

    BalasHapus
  4. bener banget mba.. tapi alhamdulillah.. sekarang udah makin banyak Ibu Rt yang Profesional. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Chika, Alhamdulillah, semoga kita termasuk dalam kelompok ini ya :)

      Hapus
  5. Betul sekali mba, saat ini saya sedang mengalami tekanan atau stress cukup berat juga padahal baru mengurus 1putri berusia 5tahun, Ibu rumahtangga memang sangat luarbiasa

    BalasHapus
  6. Mba penulis ini lho, seperti konduktor yg menyuarakan hati para ibu rumah tangga pada umumnya :)

    BalasHapus
  7. Menjadi ibu rumah tangga dengan anak yang pintar dan cerdas adalah kebanggaan seorang wanita.
    kembangkan bakat dan prestasi anak anda dengan bergabung di Griya Bakat Super di :
    http://www.bakatsuper.com

    BalasHapus

 
;