Senin, 20 Mei 2013

Maaf, Aku Sudah Berprasangka


Topik yang dibahas dalam kajian Ahad pagi itu telah ribuan hari berlalu, namun kesannya masih begitu membekas hingga kini. Tentang bagaimana sebuah prasangka seringkali berakhir dengan penyesalan yang sangat mendalam yang tak hilang meski dalam kurun waktu yang lama.

Tidak semua orang berbagi cerita pagi itu. Entah karena memang tidak punya cerita, atau merasa sungkan untuk bercerita. Karena topik yang diangkat begitu sensitif. Dibutuhkan keberanian dan kebesaran hati untuk melakukannya.


Foto : dari sini

Voluntir pertama, sebut saja namanya Aisyah. Ibu muda yang baru dikarunia satu orang putra ketika itu, bercerita bahwa dia telah berprasangka pada suaminya.

“Sejak awal menikah, suami sering berkata begini tiap kami ke rumah orang tuanya : anggaplah rumah sendiri. Jangan sungkan-sungkan, mereka juga orang tuamu, rumah ini juga rumahmu, bla bla bla” kalimat yang memang sering diucapkan para suami pada istri di awal menikah.


Berbekal kalimat-kalimat di atas, maka Aisyah berusaha untuk merasa enjoy dan merasa di rumah sendiri saat berada di rumah mertua, baik ketika ada acara keluarga atau kunjungan rutin biasa. Salah satunya, dengan tidak sungkan langsung makan begitu ia lapar tanpa harus menunggu anggota keluarga yang lain. 

Karena sebelum menikah ia terbiasa mengambil makanan dengan porsi nasi, lauk dan sayur yang sama banyaknya, kebiasaan itupun ia lakukan di rumah orang tua suaminya. Tapi teguran suaminya tidak hanya membuatnya merasa aneh, namun juga tersinggung sekaligus merasa diperlakukan tidak adil.

“Sayang, ambil lauknya jangan banyak-banyak ya” bisik suaminya ketika tau Aisyah mengambil lauk dalam potongan yang besar. Tak hanya berbisik demikian, suaminya mengambil piring Aisyah dan menukar lauk yang belum disentuhnya dengan potongan lauk yang lebih kecil. Aisyah hanya bengong.

“Ah, ini mungkin kebiasaan dalam keluarga ini” katanya dalam hati mencoba menghibur diri sendiri.

Karena Aisyah tipe orang yang mudah lupa, di lain waktu ia mengulangi lagi kebiasaannya. Mengambil lauk dan sayur sama banyaknya dengan nasi. Dan lagi-lagi, suaminya menukar lauknya sembari mengingatkan untuk mengambil lauk yang berukuran kecil. Karena kebetulan saat itu seluruh keluarga makan bersama, Aisyah jadi tau jika “aturan” mengambil lauk yang kecil hanya berlaku bagi dirinya. Hampir semua orang dalam keluarga itu tidak hanya mengambil lauk dalam ukuran yang besar, bahkan mengambil lebih dari satu. Aisyah mulai berprasangka bahwa ia diperlakukan berbeda ketika ia mengalami ini lebih dari sekali.

“Kenapa mereka tidak apa-apa mengambil lauk yang besar dan lebih dari sekali?” bisik Aisyah dengan sedikit geram.

“Itu hak mereka” jawab suaminya.

“Aku juga punya hak yang sama” Aisyah mencoba berargumen.

“Kalau kamu masih ingin, nanti kita beli di luar setelah pulang” kata suaminya.

“Aku mau masakan ibu, dan itu tidak sama dengan yang dijual di luar” perdebatanpun dilanjutkan di rumah. Bagi Aisyah, hal sederhana itu cukup menyinggung perasaannya. Sayang, suaminya hanya diam ketika diminta penjelasan, mengapa baginya berlaku aturan yang berbeda.

“Jika kamu masih kurang, aku akan belikan yang banyak, kamu boleh minta sebanyak apapun yang kamu mau” hanya kalimat ini yang berulang kali dikatakan suaminya.

Ternyata, kebiasaan mengambil lauk dalam porsi kecil juga dilakukan suaminya saat mereka bersilaturahim ke kerabat Aisyah. Meski demikian, suaminya terlihat makan dengan lahap meski satu suapan nasi yang cukup besar hanya berteman sepotong kecil lauk. Tak hanya dalam hal ukuran, suaminya juga lebih suka mengambil lauk yang kualitasnya terbilang sedang. Sebagai contoh, jika terhidang ikan, ayam, tempe, telur dan tahu, maka suami Aisyah lebih suka mengambil tiga lauk yang terakhir.

“Kenapa mengambil lauk yang sederhana, juga yang ukurannya kecil?” tanya Aisyah suatu hari setelah berkali-kali menyaksikan kebiasaan unik suaminya.

“Sayang, mari kita biasakan menghidangkan yang terbaik saat kedatangan tamu, tapi memakan ala kadarnya saat bertamu. Kalau kita ambil bagian yang terbaiknya, kita tidak tau mungkin itu lauk terbaik yang mereka punya, bahkan mungkin jatah makan mereka hari itu. Ambil ala kadarnya tapi tetap mengupayakan menyenangkan mereka” kata suaminya dengan lembut sambil tersenyum. 

Aisyah menunduk, dengan hati yang berkecamuk rasa malu dan menyesal karena telah berprasangka pada suaminya. Padahal, suaminya tengah mengajarkan sebuah pelajaran yang sangat berharga dalam hal bertamu. Sejak itu, iapun mulai mengubah kebiasaan makannya saat bertamu bahkan meski bertamu pada kerabat yang terbilang dekat sekalipun. Tak jarang mereka berdua berkata sudah makan, saat benar-benar tau bahwa hidangan yang tersedia hanya cukup untuk keluarga yang mereka datangi, meski perut mereka sangat keroncongan sekali.

Annisa, ibu muda lainnya juga menceritakan tentang prasangkanya saat baru menikah. Kali ini ia berprasangka pada saudara iparnya, yang menurutnya tidak suka padanya.

“Dari sikapnya, terlihat sekali jika ia tidak suka padaku. Kata-katanya sering ketus dan sikapnya terlihat aneh, terutama jika Bapak Ibu mertua bersikap manis padaku saat aku mengunjungi mereka” kebetulan Annisa tinggal beda kota dengan Bapak Ibu mertuanya, sedang saudara yang ia maksud adalah istri dari adik iparnya yang kebetulan masih tinggal di Pondok Mertua Indah.

“Aku memang merasa sambutan Bapak Ibu cukup wah saat aku datang, tapi kupikir itu wajar karena hanya sesekali saja aku mengunjungi mereka, paling hanya sebulan sekali. Sementara dia tinggal di sana. Ia mendapat perhatian mertua setiap hari” bela Annisa pada mulanya. Ternyata, sikap adik iparnya kian hari kian bertambah terutama saat mereka sama-sama punya anak. Adik iparnya merasa mertua mereka lebih sayang pada Annisa dan anaknya daripada dirinya. Apalagi, secara terang-terangan si adik ipar mengungkapkan ke-jealous-annya pada Annisa, meski hanya melalui pesan singkat.

“Kamu saja yang terlalu berprasangka” balas Annisa dengan ketus, Ia sudah tidak tahan dengan sikap adik iparnya yang menurutnya kian iri saja padanya. Hubungan Annisa dengan adik iparnya sempat vakum beberapa lama. Adik iparnya sering tak hadir dalam acara keluarga jika tau Annisa datang. Cukup lama ini berlangsung, hingga akhirnya adik iparnya mulai muncul dengan ekspresi yang cukup berbeda. Wajahnya lebih riang dari sebelumnya meski terkadang tatap tidak suka tetap terlihat ketika Annisa diperlakukan lebih istimewa dari dirinya. Hubungan mereka terus membaik meski prosesnya lamban seperti kura-kura.

“Saat hubungan kami cukup baik, kuberanikan diri bertanya mengapa ia dulu bersikap begitu padaku” saat menceritakan poin ini, suara Annisa terdengar berat. Kami yang mendengarpun jadi ikutan tegang.

“Aku tidak berani tanya secara langsung, hanya melalui pesan singkat. Ia tidak menjawab, justru kembali menghilang beberapa saat, sampai kemudian kuterima sebuah surat darinya” lanjut Annisa.

“Maafkan aku Kakakku Sayang, atas sikapku selama ini” demikian kalimat pembuka surat itu.

“Sejak awal aku ingin sekali berbagi, tapi itu tak mudah bagiku. Karena bertahun-tahun aku menyimpan sendiri……” Annisa mulai menitikkan airmata saat membaca kelanjutannya. Dari surat itu akhirnya ia tau, bahwa adik iparnya memiliki masa lalu yang cukup bertolak belakang dengannya. 

Annisa tumbuh besar dalam limpahan kasih sayang sehingga baginya adalah hal yang biasa saat mendapatkan hal yang sama ketika ia sudah menikah. Tapi tidak demikian dengan adik iparnya. Sejak kecil ia terbiasa diperlakukan berbeda baik dalam keluarga inti maupun keluarga besar. Sesuatu yang kemudian membekas menjadi sebuah trauma. Ia menjadi begitu sensitif terhadap perlakuan yang berbeda meski sangat kecil, seperti yang ia rasakan saat menjadi anggota baru dalam keluarga suaminya.

“Aku tau sikapku salah, tapi tak mudah bagiku untuk melupakan rasa trauma begitu saja. Aku begitu sedih dan sangat menyesal setiap kali bersikap buruk padamu. Walau berat, aku tau aku harus berubah. Mencoba ikhlas menerima. Andaipun kau diperlakukan lebih istimewa dariku, kuanggap itu sebagai hakmu……” Annisa menceritakan kalimat penutup dari surat itu dengan mata berkaca.

“Aku merasa sangat sedih jika mengingat itu. Di saat ia tengah berjuang mengatasi rasa traumanya, aku justru menghakiminya sebagai seorang pendengki” kata Annisa sambil menyeka air mata.

Beberapa di antara kami yang hanya mendengarkan juga turut berkaca, dan berjanji dalam hati untuk tidak mudah berprasangka terutama pada orang-orang terdekat kami. Karena kita tidak tau, bahwa di balik apa yang kita prasangkai, mungkin saja tersimpan sebuah rahasia besar tentang kebaikan yang masih terpendam.

5 komentar:

  1. Terimakasih atas sharing tulisannya yang mengena sekali ya mbak.. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari saling mengingatkan Mbak Shinta, terimakasih juga sudah berkunjung....:)

      Hapus
  2. Subhanallah. Ikut menyeka air mata membaca kisah yang terakhir, Mbak Ririn.;(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terutama bagian yang inikah Mbak, “Aku merasa sangat sedih jika mengingat itu. Di saat ia tengah berjuang mengatasi rasa traumanya, aku justru menghakiminya sebagai seorang pendengki”? :) Terimakasih sudah mampir....

      Hapus
  3. mba..izin share ya

    BalasHapus

 
;