Rabu, 05 Juni 2013

Tentang Sebuah Janji


Sumber Foto : dari sini

Awalnya, saya menganggap janji itu hanya sebatas janji. Cukup diupayakan untuk ditepati, jika tidak bisa, minta maaf saja pada yang bersangkutan. Dan masalah janji saya anggap selesai. Namun, percakapan dengan seorang teman di suatu siang membuat saya membangun cara pandang baru soal janji.

“Saat kecil, ayah ibuku sering mengiyakan saat aku meminta sesuatu yang tidak bisa langsung mereka tepati. Mereka mudah sekali mengatakan “iya”, namun pada kenyataannya kata ‘iya’ yang kuanggap sebagai janji itu, seringkali tidak ditepati” katanya memulai cerita.


“Pernah suatu kali, aku meminta sesuatu saat ayahku akan pergi di pagi hari. Aku tidak tau ayahku mendengar dengan seksama atau tidak barang yang kuminta, tapi beliau mengatakan ‘ya’. Aku tentu senang, maka sepanjang hari itu aku hanya menunggu ayahku pulang. Aku tidak bermain ke luar rumah, akupun makan dan mandi dengan cepat karena ingin berada di depan rumah saat ayahku datang. Namun sampai malam, bahkan nyaris larut malam, ayah tidak juga pulang. Aku menunggu sambil menahan kantuk yang teramat sangat di depan pintu. Mungkin hampir jam sembilan malam ketika itu. Aku hampir benar-benar tertidur ketika kudengar suara ayah yang baru pulang. Mataku langsung bersinar namun beberapa saat kemudian menjadi berkaca ketika aku tau ternyata ayah tidak membawa barang yang aku minta. Bahkan ayah lupa barang yang kusebutkan tadi pagi. Ayah dan ibu langsung minta maaf saat itu, namun kenangan akan janji yang tidak ditepati masih membekas hingga kini” saya terdiam mendengar ceritanya. Teman saya itu tersenyum, namun matanya memerah. Sedih itu masih terasa sepertinya meski telah hampir seperempat abad berlalu.

“Sejak itu aku berjanji untuk bersungguh-sungguh menepati janji, sesederhana apapun janji yang harus kutepati. Sekalipun itu pada anak-anak” kali ini wajahnya kembali berbinar. Dalam hati saya sangat berterimakasih, karena ceritanya menjadi pengingat bagi saya untuk semakin bersungguh-sungguh menepati janji yang sudah terucap, sekecil apapun dan pada siapapun.

Membahas soal janji juga mengingatkan saya pada kisah salah satu senior saya di kampus, yang hanya karena “janji sepele” yang tidak ditepati, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan proses ta’aruf (perkenalan) dengan seorang dokter. 

“Dokter lho Mbak, banyak yang mau jadi istrinya. Koq Mbak malah membatalkan?” tanya saya dan beberapa teman lain yang saat itu berkerumun di kamar kosnya. Si Mbak hanya tersenyum.

“Bagaimana aku percaya dia bisa menjadi imam yang baik bagiku dan anak-anakku, jika menepati janji yang kecil saja dia tidak amanah” jawabnya. Kami semakin penasaran, janji apa yang tidak ditepati si dokter, lulusan terbaik dari sebuah universitas negeri ternama, anak orang terpandang juga.

“Aku hanya meminta ia menemui guru mengajiku, agar ia berkenalan juga dengan beliau selain dengan orang tuaku. Tapi ia tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, tanpa pemberitahuan. Tanpa permintaan maaf juga. Padahal guru mengajiku sudah menunggu. Ketika kutanya mengapa ia tidak datang, ia hanya bilang jika ia lupa pada janjinya” kami hanya terdiam. Si Mbak akhirnya memutuskan untuk membatalkan proses ta’aruf. Orang tua si Mbak sempat marah, karena mereka sudah terlanjur suka dengan calon menantu yang memiliki prospek masa depan cerah itu. Tapi si Mbak tetap keukeuh dengan keputusannya. 

Ketika ditanya apakah ia tidak menyesal dengan keputusannya, si Mbak menggeleng cepat dengan sangat yakin. Saya pribadi sangat salut pada keputusannya ketika itu. Dan Maha Baik Allah pada setiap hamba yang menghargai janjinya. Si Mbak ternyata akhirnya berjodoh dengan dokter lain, yang InsyaAllah lebih memenuhi kriterianya. Barokallah ya Mbak :)

Pelajaran soal janji juga saya dapati dari salah satu kerabat yang tidak bisa membaca karena tak sempat mengenyam pendidikan formal. Iapun tak sempat mengenyam pendidikan di pesantren sebagaimana keluarga besar lain pada umumnya. Namun itu semua tak mengurangi komitmennya untuk berusaha menepati janji sebaik mungkin. Yang membuat saya salut padanya, ia hampir selalu mengatakan “InsyaAllah” setiap kali berjanji atau mengatakan sesuatu yang ia tidak yakin kepastiannya. Tentu saja tak hanya sebatas kata namun juga berupaya menepatinya sepenuh hati

Saya tak perlu bertanya padanya mengapa dalam sehari ia bisa berpuluh kali mengucapkan kata “InsyaAllah”. Bukankah janji, sekecil apapun, memang harus ditepati? 

Menepati janji adalah bukti bahwa kita bisa dipercaya :)

2 komentar:

  1. Makasih cerita indahnya, Mbak Ririn. *membaca sambil mengingat-ingat janji-janji yang mungkin sudah saya sebar kemana-mana* hiks...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mbak, tulisan ini juga sekalian untuk mengingat-ingat kembali janji-janji yang mungkin terlupakan.....:)

      Hapus

 
;