<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4631244775522277631</id><updated>2011-12-30T05:51:17.884-08:00</updated><category term='teknologi informasi'/><category term='pesantren'/><category term='XL Award 2011'/><title type='text'>My Sweet Home</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17039732141393988364</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4631244775522277631.post-7870814814213702675</id><published>2011-12-30T01:13:00.000-08:00</published><updated>2011-12-30T05:51:17.907-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pesantren'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='XL Award 2011'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teknologi informasi'/><title type='text'>Saatnya Teknologi Melejitkan Potensi Pesantren</title><content type='html'>Terdapat banyak solusi bagi sejumlah besar permasalahan besar masyarakat dan bangsa yang tersimpan di pesantren. Misalnya saja, sebagai lembaga pendidikan tertua dan asli Indonesia, pesantren bisa menjadi tumpuan harapan dalam mencetak generasi handal dan bermoral terutama bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah. Pesantren juga bisa menjadi tempat penyemaian pemimpin masa depan (the breeding of future leaders) dalam banyak bidang. Pesantren juga berpotensi besar menjadi wadah pencetak entrepreneurs yang bisa menggerakkan potensi ekonomi masyarakat sekitar. Selain itu, dengan keunikan dan kekhasannya, pesantren bisa menjadi kebanggaan kita bersama sekaligus cagar budaya dan nilai-nilai ke-Indonesiaan di era global. Sayang, banyak potensi pesantren yang belum tergali. Yang terjadi justru sebaliknya. Lembaga yang seyogyanya adalah tempat kaderisasi ulama dan cendekiawan ini disebut sebagai sarang teroris dan tempat perkecambahan (breeding ground) radikalisme di Indonesia. Pihak pesantrenpun acapkali terlalu menutup diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan bangsa yang tak kunjung usai, mulai dari keterpurukan ekonomi, krisis kepemimpinan, krisis moral, krisis lingkungan hingga ancama terorisme, mengharuskan semua elemen dan komponen bangsa untuk siaga dan ambil bagian sebagai problem solver. Tak terkecuali pesantren dengan berbagai macam potensinya yang masih tersembunyi bak harta karun. Inilah salah satu tantangan besar kita saat ini, bagaimana mencuatkan potensi besar pesantren menjadi sebuah kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengenal Pesantren Lebih Dekat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Zamakhsyari Dhofier (1982), pesantren berasal dari kata santri. Awalan pe- dan akhiran -an pada kata pesantren bermakna "tempat tinggal para santri". Sementara itu menurut Profesor Johns dan C.C.Berg, istilah santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji, juga berasal dari bahasa India yaitu shastri yang mengacu pada orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu. Kata shastri berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama, atau buku-buku ilmu dan pengetahuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren telah ada sejak ratusan lalu. Pesantren umumnya didirikan oleh kaum Muslim modernis untuk merespon ekspansi sekolah-sekolah model Belanda saat itu. Kemudian berlanjut pada masa pembaharuan kurikulum pendidikan Islam sekitar tahun 1920-an. Momentum perubahan yang cukup revolusioner terjadi pada tahun 1970-an ketika Menteri Agama Mukti Ali memasukkan sekitar 70 persen mata pelajaran umum kedalam kurikulum madrasah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan UU Sisdiknas Tahun 1989, ekuivalensi pendidikan madrasah diakui sama dengan sekolah umum. Lalu pada tahun 2000, beberapa pesantren di Indonesia mendapatkan status ekuivalensi dengan sekolah umum. Sejak fase pembaharuan ini, pesantren kemudian menjadi semacam ‘the holding institution’ yaitu lembaga pendidikan yang tidak hanya mencakup pendidikan agama, tetapi lebih dari itu, didalamnya juga mencakup pendidikan umum. Pesantren bahkan juga menjadi pusat pengembangan masyarakat dalam berbagai bidang, meliputi ekonomi rakyat, seperti koperasi dan usaha kecil, tekhnologi tepat guna, kesehatan masyarakat sampai pada konservasi lingkungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah pendidikan Indonesia khususnya dalam bidang pendidikan Islam, pesantren terbukti memberi sumbangan sangat besar dalam mencerdaskan bangsa melalui sistem pendidikan yang sudah ratusan tahun diterapkan. Sejumlah tokoh penting baik di masyarakat maupun pemerintahan adalah produk pendidikan pesantren. Para alumni pesantren juga mampu berkompetisi dan sukses melanjutkan pendidikan di seluruh penjuru dunia, tidak hanya di wilayah Timur Tengah. Pesantren yang terbukti mampu bertahan di tengah begitu banyak perubahan yang cepat dan berdampak luas, membuatnya menjadi harapan masyarakat sebagai pendidikan alternatif yang di dalamnya tidak hanya mencakup pendidikan umum, tetapi juga pendidikan kemasyarakatan yang kelak akan memberi nilai tambah pada alumni-alumninya. Pesantren kian menjadi pilihan masyarakat terutama kalangan menengah ke bawah ketika biaya pendidikan semakin meroket. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita ketahui, Indonesia tercatat sebagai negara dengan anggaran pendidikan terendah di Asia. Menurut data World Bank, anggaran belanja Indonesia untuk tahun 2003 adalah sekitar 1,5 persen dari Produk Domestik Bruto (Gross Domestik Product-GDP). Sebagai perbandingan, anggaran pendidikan di Korea Selatan sebesar 5,3 persen. Vietnam yang sebenarnya tidak lebih berkembang dari Indonesia, menganggarkan sebesar 2,8 persen untuk pendidikannya. Sementara itu Thailand menggunakan 3,7 persen dari GDP. Angka ini terus mengalami kenaikan pada tahun-tahun berikutnya dalam rangka meningkatkan kemampuan analisis siswa-siswanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2006 ketika Indonesia menyisihkan kurang dari 10 persen total anggaran nasional untuk sektor pendidikan, Cina telah menyisihkan 13 persen, India 12 persen, Filipina 17 persen, Malaysia 20 persen, HongKong 23 persen, dan Thailand 27 persen. Ketika akhirnya pemerintah menepati janji untuk mengalokasikan 20 persen APBN untuk anggaran pendidikan, ini tidak serta membuat sistem pendidikan kita semakin baik. Korupsi yang sedemikian akutnya di negeri kita juga menggerogoti sektor pendidikan. Anggaran di sektor pendidikan diperkirakan mengalami kebocoran hingga 30 persen. Berdasarkan evaluasi pengelolaan dana alokasi khusus tahun 2009 untuk pendidikan oleh KPK, dari total anggaran Rp 9,3 triliun yang dibagikan ke 451 daerah tingkat dua, diperkirakan Rp 2,2 triliun telah diselewengkan di 160 kabupaten atau kota. Sementara itu menurut temuan ICW, selama kurun waktu 2004-2009, sedikitnya terungkap 142 kasus korupsi di sektor pendidikan. Kerugian negara diperkirakan mencapai Rp 243,3 miliar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi di atas masih diperparah oleh kegagalan sistem pendidikan untuk mencetak generasi muda yang handal dan berdaya saing tinggi. Diperkirakan terdapat sekitar 40 juta pengangguran di Indonesia akibat kegagalan sistem pendidikan. Jumlah tenaga kerja tidak terampil dan tidak layak kerja di Indonesia naik secara eksponensial. Dalam hal sumber daya manusia, Indonesia dipandang kurang bersaing sebagai tujuan investasi asing dibandingkan Thailand, Singapura, dan bahkan Vietnam. Namun, kita adalah yang terdepan sebagai negara pengirim tenaga kerja murah kurang terampil ke luar negeri terutama untuk sektor informal pekerja rumah tangga (PRT).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan dan semakin mahalnya biaya pendidikan di sekolah umum membuat pendidikan berorientasi Islam termasuk pesantren menjadi alternatif yang banyak dipilih orang tua. Diperkirakan sekitar 20 persen dari anak usia sekolah di Indonesia masuk ke sekolah-sekolah Islam termasuk pesantren. Tingkat penerimaan murid baru meningkat sekitar 7 persen setiap tahunnya, meski banyak ahli menyatakan bahwa kualitas guru dan titik berat pada studi agama di sekolah-sekolah tersebut memiliki konsekuensi bahwa kebanyakan lulusan sekolah Islam kurang memiliki ketrampilan yang diperlukan untuk berpartisipasi pada bursa lapangan kerja yang kompetitif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tahun ke tahun jumlah pesantren terus bertambah secara signifikan. Berdasarkan data Departemen Agama, pada 1977 jumlah pesantren sekitar 4.195 dengan jumlah santri sekitar 677.384 orang. Pada tahun 1981, tercatat ada sekitar 5.661 pesantren dengan 938.397 orang santri. Pada tahun 1985 jumlah pesantren terus mengalami kenaikan menjadi 6.239 dengan jumlah santri mencapai sekitar 1.084.801 orang. Sementara pada tahun 1997 Departemen Agama sudah mencatat 9.388 buah pesantren dengan santri sebanyak 1.770.768 orang. Hingga 2007, jumlah pesantren mencapai 14.647 dengan jumlah santri 3.289.141. Pada tahun 2009, jumlahnya diperkirakan hampir mencapai 17 ribu pesantren. Meski dalam beberapa waktu terakhir bermunculan pesantren di sejumlah kota-kota besar dengan fasilitas menyamai lembaga pendidikan bertaraf nasional bahkan internasional, namun kebanyakan pesantren terdapat di kawasan pedesaan bahkan daerah pedalaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silabus standar pesantren meliputi pemahaman Al-Qur'an, bahasa Arab, hukum-hukum Islam serta tradisi-tradisi dan sejarah Muslim yang diajar oleh pengajar Muslim. Beberapa pesantren yang awalnya hanya mengajarkan kitab-kitab kuning dan bertujuan mencetak kader ulama’, kemudian berubah dengan menawarkan sekolah formal, seperti madrasah atau sekolah. Menurut Asian Development Bank (ADB), 21 persen dari seluruh murid Indonesia setingkat SMP di Indonesia menuntut ilmu di 38.500 madrasah. Di mana lebih dari setengah murid-murid madrasah adalah anak para petani dan buruh. Secara umum madrasah melayani kawasan-kawasan pedesaan miskin dan dengan tingkat aktivitas tertinggi di kawasan-kawasan terisolir yang hanya memiliki kesempatan pendidikan yang terbatas. Daerah-daerah ini sering merupakan daerah yang memiliki tingkat pengangguran dan kemiskinan yang tinggi. Karena itulah, selain berciri khas umumnya berada di daerah pedesaan/pedalaman, pesantren acapkali juga diidentikkan dengan pendidikan wong cilik karena lebih dari separuh santrinya adalah anak petani dan buruh. Kehadirannya telah menjadi secercah harapan bagi terselenggaranya pendidikan yang menyeluruh bagi seluruh anak bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurangnya fasilitas, dana dan tenaga profesional di lingkungan pesantren mengakibatkan lulusan pesantren yang jumlahnya cukup signifikan seringkali menjadi gagap saat terjun ke masyarakat. Sulit mencari kerja dan kalaupun bekerja, mayoritas dari mereka menjadi pekerja tidak profesional. Seperti menjadi pedagang biasa di pasar-pasar tradisional. Tidak sedikit pula yang menganggur. Padahal biaya dan waktu yang mereka habiskan untuk menuntut ilmu di ponpes tidak sedikit. Bisa hingga belasan tahun atau hampir sama dengan mereka yang mengenyam pendidikan formal hingga lulus dari perguruan tinggi. Padahal seperti lulusan sekolah umum, para santripun akan menghadapi tantangan yang tak kalah kompleks di era persaingan global. Tidak hanya masalah skill, banyak lulusan pesantren yang merasa inferior, kurang percaya diri atau merasa warga second class ketika harus bersaing dengan alumni dari lembaga pendidikan umum. Dalam konteks ini, teknologi informasi (TI) terutama telepon seluler (ponsel) dan internet bisa menjadi akseletor peningkatan daya saing sumber daya manusia (SDM) pesantren. Masalahnya kemudian, sebagian besar pesantren banyak yang menutup diri dari sentuhan TI. Sebagian bahkan menganggapnya sebagai musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Teknologi dan Pesantren : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Friend or Foe&lt;/span&gt;?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hampir seluruh penjuru dunia telah bersahabat dengan teknologi informasi (TI) hampir sepanjang waktu, sebagian besar pesantren di Indonesia masih banyak yang menutup diri bahkan “mengharamkan” TI terutama telepon seluler dan internet. Pun ketika harganya semakin terjangkau. Fenomena ini masih mewanai sebagian besar pesantren kita hingga sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan utama sikap menutup diri tersebut adalah sebagai upaya melindungi para santri yang mayoritas adalah anak-anak muda, dari pengaruh buruk dan ketergantungan terhadap TI. Di satu sisi, langkah ini memberi dampak yang positif. Selain lebih terproteksi dari bahaya buruk seperti pornografi, para santri umumnya juga bisa hidup ‘tenang dan damai’ bebas dari pengaruh cyber imperialism (jajahan dunia cyber/maya yang salah satunya melalui jejaring social). Dengan begitu, seyogyanya mereka bisa belajar lebih konsen. Namun, kurangnya akses terhadap TI juga memiliki sejumlah dampak negative terhadap pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita ketahui, penggunaan TI semakin menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat dunia saat ini. TI terutama internet (sering disebut pula sebagai raja informasi), memang seperti pisau bermata dua. Bersamaan dengan pengaruh buruknya yang sangat nyata, internet juga berdampak sangat revolusioner dalam sejumlah aspek kehidupan manusia, baik dalam hal berkomunikasi, proses belajar, menggali dan berbagi informasi, interaksi sosial bahkan hingga bisnis. Jika bisa memanfaatkan dengan baik, internet bisa menjadi media lompatan yang luar biasa untuk menjadi SDM yang handal, professional dan berdaya saing tinggi di era global. Itulah mengapa, negara-negara maju yang umumnya memiliki SDM handal dan pertumbuhan ekonomi tinggi, akses TI warga negaranya rata-rata lebih dari separuh total jumlah penduduknya.  Sementara itu, akses negara berkembang terhadap TI umumnya maksimal hanya 30 persen dari total jumlah penduduk. Sementara untuk negara miskin, akses masyarakatnya terhadap TI umumnya tidak sampai dari 10 persen jumlah penduduknya. Ini artinya, tingkat pertumbuhan ekonomi dan kualitas SDM sebuah negara berbanding lurus dengan akses TI warga negaranya. Lalu bagaimana dengan Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut data terbaru Global Internet User, jumlah penduduk Indonesia yang mengakses internet baru berkisar antara 10-20 persen dari total penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai 240 juta jiwa. Data ini hampir sama dengan data dari Effective Measure, firma yang memiliki spesialisasi dalam pengukuran statistik web, yang memperkirakan pengguna internet di Indonesia pada tahun 2011 mencapai 39.100.000 orang atau peringkat ke-8 di dunia. Dengan jumlah persentase ini, maka sangat wajar jika Indonesia masuk kategori negara berkembang dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang relatif stagnan dari tahun ke tahun (mengalami penurunan peringkat dari posisi 109 pada tahun 2010 menjadi 124 pada tahun 2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data yang menunjukkan masih sedikitnya masyarakat pengguna internet di atas menjadi semakin ironis ketika pada tataran praksisnya, ada sekelompok besar masyarakat yang dengan sengaja menutup diri pada TI padahal mereka memiliki potensi kontribusi yang besar sebagai problem solver masyarakat dan bangsa. Sebagian besar masyarakat lainnya karena factor infrastruktur, ketidakmampuan ekonomi dan kurangnya pengetahuan belum bisa memaksimalkan peran positif TI. Akibatnya kita mengalami kesejangan digital yang berlipat ganda. Dalam tataran negara, kita mengalami ketertinggalan dan kesenjangan digital dengan negara maju. Dalam internal masyaarakt Indonesia sendiri, ada kesenjangan yang cukup lebar dalam masyarakat. Yang salah satunya diwakili oleh pesantren sebagai representasi masyarakat tradisional menengah ke bawah terutama di pedesaan dan pedalaman, dan kelompok masyarakat lain yang lebih moderat terutama di wilayah perkotaan. Kondisi ini mengharuskan kita merumuskan hubungan dan formulasi TI yang tepat dan bijak bagi pesantren. Pertanyaan pertamanya adalah, teknologi bagi pesantren itu teman (friend) ataukah musuh (foe)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat dasar TI sebenarnya adalah netral. Bergantung pada siapa yang menggunakannya. Ini artinya, seyogyanya TI memiliki banyak kontribusi bagi kemajuan pesantren. Sebagai sarana belajar para santri, menggali dan berbagi informasi, berdakwah, mendukung semangat entrepreneurship pesantren, membentuk jaringan dan kerjasama antar pesantren dan masih banyak lagi. Untuk takaran formulasi yang tepat dan bijak sebenarnya juga berlaku aturan umum bahwa segala sesuatu termasuk perangkat TI terutama telepon seluler dan internet, yang terlalu berlebihan apalagi sampai melanggar aturan dan norma, pasti akan mendatangkan banyak kerugian. Khusus bagi pesantren yang memiliki aturan dan norma yang lebih ketat, ini sebenarnya tetap bukan halangan untuk memaksimalkan peran TI untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat. Justru ini bisa meningkatkan proteksi pesantren terhadap pengaruh buruk TI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Butuh Akselerasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak pihak yang menyadari arti penting TI bagi kemajuan pesantren. Hal  sama juga dirasakan oleh kalangan pesantren sendiri yang kian menyadari bahwa akan sulit bagi pesantren untuk eksis dan berkontribusi serta bersaing di era global jika terus menutup diri dan alergi terhadap TI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah program yang mensinergiskan antara pesantren dan TI mulai banyak bermunculan. Dan terbukti, ketika para santri bersentuhan dengan TI, mereka mampu menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing dengan mereka yang berasal dari lembaga pendidikan umum. Sayangnya, ini masih diwakili oleh segelintir pesantren. Masih terdapat sejumlah besar pesantren di Indonesia terutama di daerah pinggiran dan pedalaman yang belum memiliki akses terhadap TI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sejumlah kendala yang dihadapi pesantren untuk lebih bersahabat dan mengambil banyak manfaat dari TI. Pertama, keterbatasan sarana dan prasarana. Sebagaimana kita ketahui, sebagian besar santri di pesantren adalah anak buruh dan petani. Sulit bagi mereka untuk memiliki perangkat TI meski harganya semakin terjangkau. Pihak pesantren juga tidak bisa berbuat banyak karena pada umumnya pesantren bahkan yang sudah memiliki madrasah, tidak memiliki cukup dana. Meski mampu menyediakan sejumlah perangkat komputer dan jaringan internet namun seringkali jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah santri yang bisa mencapai ratusan bahkan ribuan. Proses belajar para santri menjadi kurang optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, meski infrastruktur TI di Indonesia semakin baik, pada kenyataannya masih terdapat sejumlah wilayah pedesaan, pinggiran dan pedalaman, tempat di mana sebagian besar pesantren kita berada, tidak memiliki sinyal yang baik. Keadaan ini semakin mempersulit akses pesantren terhadap TI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kendala SDM. Sejumlah pelatihan TI sudah semakin sering diberikan pada pesantren namun pelatihan oleh pihak internal tidak bisa selalu diandalkan. Jumlah pelatihan yang ada sangat timpang dengan banyaknya pesantren yang membutuhkan. Untuk mengandalkan pelatihan internal sangat sulit karena selain kendala sarana dan prasarana serta infrastruktur, pesantren juga menghadapi masalah keterbatasan SDM yang krusial. Ini terjadi karena pada umumnya tidak hanya para santri yang gaptek tetapi juga para pengajarnya (ustadz/ustadzah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala-kendala di atas seyogyanya dapat diatasi melalui sejumlah upaya dan kerjasama yang intens dari semua pihak. Selain goodwill dari pihak pesantren untuk lebih terbuka terhadap TI, peran nyata pemerintah baik pusat maupun daerah juga sangat menentukan. Yang juga tak kalah penting adalah peran para operator seluler sebagai bagian dari upaya menyukseskan pendidikan bagi masyarakat di daerah pinggiran dan pedalaman. Menilik urgensinya dan besarnya antusiasme para santri untuk belajar, pesantren patut menjadi salah satu kelompok masyarakat yang harus diprioritaskan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk melejitkan potensi pesantren. Selain penyediaan infrastruktur, berbagai pelatihan yang kontinu disertai dengan bantuan sarana dan prasarana teknis akan sangat berarti bagi kemajuan pesantren. Dan sepertinya, tak butuh waktu lama bagi pesantren untuk mengejar ketertinggalannya untuk kemudian membuktikan potensi dan kontribusi besar mereka bagi masyarakat dan negara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4631244775522277631-7870814814213702675?l=ririnhandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/feeds/7870814814213702675/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2011/12/saatnya-teknologi-melejitkan-potensi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/7870814814213702675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/7870814814213702675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2011/12/saatnya-teknologi-melejitkan-potensi.html' title='Saatnya Teknologi Melejitkan Potensi Pesantren'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17039732141393988364</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4631244775522277631.post-329271777860270100</id><published>2011-12-09T23:09:00.000-08:00</published><updated>2011-12-09T23:10:41.816-08:00</updated><title type='text'>Antara UBS, Citibank dan Bank Syariah</title><content type='html'>Kasus pembobolan bank terbesar di Swiss, Union Bank of Switzerland (UBS) beberapa waktu lalu, menuai banyak kecaman sekaligus ketidakpercayaan banyak pihak. Setidaknya karena tiga alasan. Pertama, selama ini bank-bank di Swiss dikenal sebagai tempat yang paling aman untuk menyimpan uang. Kedua, pembobolan itu dilakukan oleh karyawannya sendiri. Ketiga, pembobolan bank oleh orang dalam bukan kali pertama di Eropa sehingga seharusnya korporasi perbankan telah memetik pelajaran dari kasus-kasus sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembobolan UBS oleh Kweke Adoboli, pialang UBS di bagian bank investasi telah mengakibatkan kerugian senilai USD 2 miliar atau sekitar Rp 17 triliun. Saham UBS juga melorot hingga 8 persen di saat saham-saham sektor perbankan Eropa lainnya mengalami kenaikan 1,3 persen sebagai dampak sentimen positif dari komitmen menyelamatkan Yunani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus pembobolan bank oleh orang bank sendiri dalam jumlah besar bukan kali ini saja terjadi di Eropa. Sebelum kasus Kweke Adoboli di UBS Swiss, nasabah bank di Eropa telah dihebohkan oleh kasus Jerome Kerviel, karyawan Societe Generale, bank terbesar di Prancis dengan total kerugian mencapai USD 6,7 miliar atau sekitar Rp 59 triliun pada 2008 lalu. Kasus serupa juga terjadi pada tahun 1995, yakni pembobolan Barings Bank di Inggris oleh karyawannya, Nick Leeson dengan kerugian sebesar USD 1,3 miliar. Karena kasus ini, Barings Bank yang sudah berdiri ratusan tahun akhirnya bangkrut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Indonesia, kasus pembobolan bank oleh orang dalam juga kerap terjadi. Salah satu yang masih sangat segar dalam ingatan kita bersama adalah kasus Malinda Dee. Sama halnya dengan Kweke Adoboli, Jerome Kerviel dan Nick Leeson, Malinda juga menyalahgunakan wewenangnya sebagai relationship manager di Citibank untuk memanipulasi data serta mengalihkan dana milik nasabah ke rekening miliknya. Aksi yang konon telah berlangsung selama tiga tahun setidaknya merugikan nasabah hingga Rp 20 miliar. Atas kasus tersebut, Citibank menegaskan bahwa dana nasabah tetap aman. Hal sama yang juga dtegaskan oleh UBS. CEO UBS Oswald Gruebel dan timnya juga berjanji akan melakukan segala cara untuk mencari tahu asal muasal kejadian tersebut. Adoboli sendiri telah ditangkap pihak kepolisian pada 15 September lalu, hanya selang beberapa jam setelah kasus pembobolan diumumkan ke publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran Berharga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus pembobolan bank oleh orang dalam (insider fraud) meski tidak sampai menimbulkan kepanikan masyarakat seperti yang terjadi pada Citibank dan UBS, tetap saja mencederai reputasi korporasi yang bersangkutan. Dari kasus dua bank tersebut kita bisa mengambil sejumlah pelajaran berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, jika bank yang berpredikat sangat baik dan sangat aman seperti UBS saja berhasil dibobol oleh karyawannya sendiri, sangat wajar jika publik terutama nasabah merasa khawatir dan mempertanyakan keamanan uangnya di bank yang tidak memiliki reputasi sebaik UBS. Ini artinya, meski kasus ini tidak sampai menimbulkan kepanikan, bagaimanapun kepercayaan masyarakat telah tercederai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kasus semacam ini tidak bisa dianggap remeh karena bisa berdampak luas terutama jika terus berulang apalagi dengan kerugian yang sangat besar. Sejarah telah mencatat bahwa Barings Bank yang berusia ratusan tahun akhirnya bangkrut karena kasus yang sama. Artinya, kita harus waspada dan mengantisipasi sedini dan sebaik mungkin agar masalah ini tidak terulang atau paling tidak berupaya meminimalisir resiko yang mungkin ditimbulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kasus UBS juga kembali mengingatkan kita betapa pentingnya masalah integritas sumber daya manusia. Karena sehebat apapun sistem perbankan yang diterapkan, jika aspek humanware (perangkat manusia) yang mengawakinya tidak memiliki integritas dan komitmen, maka sistem tidak akan berjalan sempurna. Artinya, selain ditopang oleh sistem perbankan yang optimal, payung hukum yang memadai, perbankan juga perlu didukung SDM perbankan yang tidak hanya handal dan professional namun juga memiliki integritas tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, bagi bank syariah ini merupakan momentum baik untuk kian mengukuhkan keunggulan-keunggulannya dari sistem perbankan konvensional terutama dalam meminimalisir terjadinya fraud atau kecurangan yang dilakukan oleh orang dalam (insider fraud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan Bank Syariah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori The Fraud Triangle, salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku manusia untuk melakukan fraud (kecurangan) adalah tidak adanya integritas individu di dalam melakukan tugas dan tangung jawabnya selaku pegawai perusahaan. Ada tiga faktor yang secara bersama-sama menyebabkan kecurangan yaitu motive, perceived opportunity, dan integrity. Dari ketiga faktor ini, integritas menjadi kunci utama untuk meminimalisir terjadinya tindak kecurangan. Integritas yang baik akan mereduksi motif dan mengabaikan kesempatan untuk melakukan kecurangan. Begitu pula sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraknya kasus perbankan akhir-akhir ini juga dinilai sebagai akibat dari lemahnya praktik, implementasi dan atau dilanggarnya prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG). GCG sendiri pada intinya adalah mengenai suatu sistem, proses, dan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholders) terutama dalam arti sempit hubungan antara pemegang saham, dewan komisaris, dan dewan direksi demi tercapainya tujuan organisasi. GCG dimaksudkan untuk mengatur hubungan ini dan mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan (mistakes) signifikan dalam strategi korporasi dan untuk memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat diperbaiki dengan segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, konsep dan prinsip GCG sejalan dengan GCG perbankan syariah. Namun, GCG bank syariah memiliki kelebihan yakni ia terkonstruksi atas dimensi horizontal dan vertikal secara integral. GCG perbankan syariah merupakan refleksi integral antara ibadah dan muamalah yang bersandar pada nilai-nilai Illahiah. Sehingga seluruh subyek, obyek dan aktivitas perbankan syariah terbingkai dalam formula yang Islami yang akan dipertanggungjawabkan secara langsung kapada Sang Khalik. Mekanisme semacam ini sama sekali tidak tersentuh oleh CGC perbankan konvensional yang hanya mengatur hubungan dan pertanggungjawaban secara horizontal berlandaskan nilai-nilai etika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mekanisme yang holistik seperti ini, sejauh ini bank syariah mampu membuktikan dan menjaga konsistensi keamanannya dalam menjaga amanah nasabah. Sementara bank konvensional semakin menunjukkan kelemahan-kelemahannya. Bahkan bank yang memiliki reputasi sangat baikpun bisa kebobolan. Wallahualam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan telah dimuat di Harian Kontan, 30 September 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4631244775522277631-329271777860270100?l=ririnhandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/feeds/329271777860270100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2011/12/antara-ubs-citibank-dan-bank-syariah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/329271777860270100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/329271777860270100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2011/12/antara-ubs-citibank-dan-bank-syariah.html' title='Antara UBS, Citibank dan Bank Syariah'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17039732141393988364</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4631244775522277631.post-1076655342683341555</id><published>2011-12-05T22:52:00.000-08:00</published><updated>2011-12-05T22:56:26.931-08:00</updated><title type='text'>Bahaya Korupsi di Konstruksi</title><content type='html'>Tragedi runtuhnya jembatan Kutai Kartanegara (Kukar) pada Sabtu sore, 26 November lalu menyisakan sejumlah catatan sekaligus keprihatinan. Runtuhnya jembatan yang juga dijuluki Golden Gate-nya Indonesia itu dalam usia yang masih muda, baru 10 tahun, menimbulkan sejumlah tanda tanya besar, keprihatinan sekaligus kekhawatiran di benak kita semua. Seperti, bagaimana kualitas konstruksi jembatan, bagaimana perawatannya selama ini, bagaimana pula kualitas SDM konstruksi kita, dan sebagainya. Dan renungan terpenting dari tragedi tersebut adalah inikah akibatnya jika sektor yang sangat strategis dikorupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikasi korupsi pada konstruksi jembatan mulai diendus oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sejumlah praktisi konstruksi juga menemukan sejumlah fakta yang bisa mengarah pada indikasi penyelewengan. Pihak kepolisian bahkan akan segera menetapkan sejumlah tersangka terkait ditemukannya unsur pidana umum merujuk pada pasal 359 dan 360 KUHP tentang kelalaian manusia yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain sekaligus mengusut lebih lanjut terkait adanya indikasi pidana khusus atau korupsi yakni penyimpangan yang mengakibatkan kerugian keuangan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sektor Strategis dan Terkorup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita ketahui, sektor konstruksi adalah salah satu sektor yang paling strategis dan menentukan kehidupan masyarakat dan bangsa. Ia merupakan pilar utama perekonomian bangsa terutama terkait dengan penyediaan infrastruktur sebagai penopang utama roda perekonomian. Karenanya, sektor ini sangat berpengaruh terhadap tingkat daya saing Indonesia. Sebagai dilaporkan oleh Global Competitiveness Report 2010-2011 yang dilansir oleh World Economic Forum, peringkat daya saing Indonesia terganggu oleh kondisi infrastruktur yang masih buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sektor konstruksi juga memiliki kontribusi yang besar terhadap produk domestik bruto (PDB) dan terus mengalami kenaikan yang signifikan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 1973 sumbangan sektor konstruksi terhadap produk domestik bruto (PDB) masih sekitar 3,9%. Angka itu terus meningkat hingga mencapai 8% pada 1997. Krisis ekonomi 1998 sempat menghentikan ekspansi bisnis konstruksi. Hingga lima tahun pascakrisis, sumbangan sektor konstruksi terhadap PDB terus menurun hingga mencapai 6% pada 2002. Setelah krisis berlalu, bisnis konstruksi terus membaik. Pada 2005, sumbangan sektor konstruksi terhadap PDB mampu menembus 6,35%. Pada 2008, sektor konstruksi juga tercatat tumbuh 7,3% menjadi Rp419,3 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi penyerapan tenaga kerja, Data BPS menyebutkan kontribusi sektor konstruksi dalam penyerapan tenaga kerja mencapai 4,37 juta jiwa pada 2006, terdiri atas 4,24 juta jiwa pekerja pria dan 124.932 jiwa pekerja wanita atau 4,60% dari total angkatan kerja pada tahun itu yang mencapai 95,17 juta jiwa. Departemen Pekerjaan Umum memprediksi, jumlah tenaga kerja di sektor konstruksi pada 2009 menembus 5,2 juta orang. Potensi bisnis konstruksi di Indonesia juga sangat besar. Pada 1995, pasar industri jasa konstruksi mencapai Rp45 triliun. Pada 2003, nilai proyek para pelaku usaha jasa konstruksi mencapai Rp159 triliun, di mana 55% merupakan proyek swasta dan sisanya dari pemerintah. Nilai itu menunjukkan tren yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Sayangnya, sektor ini juga dicatat dan dikenal masyarakat sebagai sektor terkorup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan survey indeks persepsi korupsi yang dilakukan World Bank pada tahun 2005 di 15 negara, termasuk Indonesia, sektor konstruksi berada pada urutan terakhir atau terkorup di antara 17 sektor perekonomian. Sektor korupsi dianggap rawan penyimpangan, suap dan korupsi karena bidang pekerjaan konstruksi yang melibatkan banyak pihak, dipandang dapat membuka peluang terjadinya suap dan korupsi. Nilai kontrak yang relatif besar juga mempermudah untuk menyembunyikan dana suap, korupsi dan mengatur mark-up harga. Di sisi lain, penampilan akhir hasil dapat menyembunyikan rendahnya mutu bahan, volume dan penyimpangan metode pelaksanaan. KPK bahkan menyebutkan bahwa tingkat kebocoran APBN di sektor ini mencapai 40 persen, sedangkan tingkat kebocoran dalam pengadaan barang dan jasa mencapai 30 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi rahasia umum pula jika proyek konstruksi nasional telah menjadi “bancakan” kader partai politik dan oknum pejabat pemerintah. Kajian Kadin menyebutkan, sebagian besar pemenang proyek konstruksi sudah ditunjuk sebelum pelaksanaan tender. Sebanyak 87 persen dari seluruh proyek konstruksi di Indonesia telah ditetapkan pemenangnya sebelum tender berakhir. Dari angka tersebut, 90 persen di antaranya syarat unsur korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bom Waktu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi pada semua sektor kehidupan pasti akan memunculkan bahaya dan kerugian yang tidak sedikit. Apalagi pada sektor konstruksi yang merupakan salah satu sektor paling strategis bagi masyarakat dan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sektor yang kerap dijadikan mesin uang melalui sejumlah praktik kolusi dan korupsi yang sangat kental, korupsi di konstruksi tak ubahnya seperti bom waktu. Muncul kekhawatiran tragedi serupa akan terulang dengan jumlah korban dan materi yang tidak sedikit mengingat sektor konstruksi umumnya bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Terutama sebagai sarana transportasi seperti jalan dan jembatan, maupun sebagai pusat pelayanan public seperti rumah sakit dan sekolah. Apalagi, Indonesia adalah negara yang sangat rentan bencana terutama gempa bumi dan tsunami. Bila tidak segera diantisipasi, konstruksi yang digerogoti korupsi ditambah oleh kerentanan Indonesia terhadap bencana, akan menjadi bom waktu yang bisa menelan banyak korban jiwa dan kerugian material yang besar. Secara umum, korupsi di konstruksi yang tidak segera diberantas pastinya juga akan berpengaruh buruk terhadap perekonomian dan daya saing Indonesia di mata para investor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi runtuhnya Jembatan Kukar sekali lagi mengingatkan kita bahwa bahaya laten korupsi tidak bisa ditutupi oleh tampilan semegah apapun meski nyaris menyamai Golden Gate di San Fransisco Amerika Serikat. Hanya dalam waktu 10 tahun, kemegahan itupun runtuh dengan menelan banyak korban jiwa dan materi yang tidak sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rubrik Opini Kontan, edisi Senin 5 Desember 2011&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4631244775522277631-1076655342683341555?l=ririnhandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/feeds/1076655342683341555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2011/12/bahaya-korupsi-di-konstruksi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/1076655342683341555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/1076655342683341555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2011/12/bahaya-korupsi-di-konstruksi.html' title='Bahaya Korupsi di Konstruksi'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17039732141393988364</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4631244775522277631.post-7496289007391427179</id><published>2011-11-17T22:18:00.000-08:00</published><updated>2011-11-17T22:21:26.503-08:00</updated><title type='text'>Menyongsong Zero Placement TKI</title><content type='html'>Kompleksnya persoalan perlindungan hukum dan jaminan keamanan bagi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi yang tidak menemui titik temu akhirnya memaksa pemerintah bertindak tegas dengan melakukan pengetatan pengiriman TKI ke negara tersebut. Kebijakan yang berlangsung selama tiga bulan ini dimaksudkan untuk mengevaluasi sistem penempatan dan perlindungan TKI di Arab Saudi sekaligus membenahi titik lemahnya. Komisi Rekrutmen Nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Arab Saudi pada 14 Februari lalu juga telah mengumumkan penghentian sementara penerimaan TKI. Agen-agen perekrutan disarankan untuk tidak menerima visa kerja TKI. Pemerintah setempat juga diminta untuk tidak lagi memberi visa kerja kepada TKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ternyata langkah tersebut tak cukup efektif mereduksi masalah, bukan tidak mungkin pemerintah akan mengambil kebijakan yang lebih ekstrim yakni moratorium atau zero placement (penempatan nol). Jika akhirnya kebijakan ini terpaksa diambil, zero placement ke Arab Saudi patut diapresiasi karena sejak lama masyarakat sudah meminta pemerintah memberlakukan moratorium atau penghentian pengiriman dan penempatan TKI ke negara tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara yang menjadi pengimpor pembantu rumah tangga (PRT) terbesar dari Indonesia ini, diperkirakan sekitar 3,3 juta TKI bekerja sebagai PRT atau sekitar 70 persen dari total TKI yang bekerja sebagai PRT di seluruh negara tujuan. Ironisnya, di negara ini pula Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mencatat, sepanjang tahun 2010 hingga 1 November, dari total 3.835 kasus penganiayaan yang menimpa TKI terbanyak terjadi di Arab Saudi, yakni sebanyak 55 persen. Begitu juga dengan pelecehan seksual yang mencapai 68 persen. Tak hanya itu, TKI yang pulang dalam kondisi cacat, pulang dalam kondisi hamil atau membawa anak hasil hubungan gelap atau karena ulah majikan, TKI yang bekerja bertahun-tahun tanpa digaji, bahkan pulang tinggal nama terbanyak juga dari Arab Saudi. Berbagai catatan memilukan ini lebih dari cukup untuk menyambut gembira kebijakan zero placement ke negara tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sejumlah persoalan juga akan muncul jika kebijakan tersebut benar-benar dilaksanakan. Setelah penghentian pengiriman tenaga kerja, pemulangan TKI yang overstay atau telah habis masa kerjanya dan pulangnya para TKI yang akan segera habis masa kontraknya, bisa dipastikan jumlah pengangguran di dalam negeri akan bertambah signifikan. Bukan tidak mungkin, tanpa langkah antisipatif yang konkrit dan tepat sasaran, pengangguran baru tersebut akan menambah deret panjang daftar orang miskin di negeri ini. Sejumlah persoalan lain dipastikan akan segera menyusul dan semakin kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Masih Menjadi Pilihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakmampuan pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja yang memadai bagi warga negaranya membuat bekerja sebagai TKI menjadi alternatif terbaik bahkan lapangan kerja favorit masyarakat saat ini. Meski sejumlah kasus yang menimpa TKI terus mencuat, animo masyarakat justru meningkat. Ketika kebijakan moratorium ke Arab Saudi diberlakukan, maka sejumlah negara lain akan menjadi tujuan berikutnya.&lt;br /&gt;Beberapa negara yang menjadi “syurga” bagi para TKI yang bekerja sebagai PRT antara lain adalah Singapura, Hongkong dan Taiwan. Cukup bertolak belakang dengan kehidupan PRT di Arab Saudi yang acapkali mengalami penyiksaan dan penindasan, para buruh migran di tiga negara tersebut justru bisa bermetamorfosis secara dinamis untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih baik sekembalinya ke tanah air. Dengan perlindungan hukum yang jelas dari negara tempatnya bekerja, selain memperoleh gaji dan perlakuan yang layak, mereka juga memperoleh kesempatan untuk beraktualisasi dan mengembangkan potensi diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah TKI mempergunakan kesempatan tersebut untuk melanjutkan studi bahkan hingga jenjang perguruan tinggi (salah satunya melalui Universitas Terbuka). Ada pula yang menjadi penulis bahkan merambah dunia perfilman seperti Bayu Insani, Karin Maulana, Nessa Metakartika dan kawan-kawan. Buruh migran di tiga negara tersebut juga sangat familiar dengan internet. Beberapa bahkan mendapat fasilitas ini langsung dari majikannya. Bandingkan dengan PRT di Arab Saudi yang telepon seluler saja tidak boleh membawa apalagi meminta fasilitas tersebut pada majikannya. Pemerintah setempat bahkan melarang pemerintah Indonesia yang beberapa waktu lalu berencana memfasilitasi TKI di sana dengan telepon seluler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar persoalan di Arab Saudi tidak terulang, pemerintah harus melakukan sejumlah langkah strategis mengingat gelombang pengiriman TKI ke negara lain diperkirakan akan meningkat jika kebijakan zero placement benar-benar diberlakukan. Apalagi, permintaan TKI  di luar negeri seperti Malaysia masih sangat tinggi. Seperti Filipina, profesionalitas manajemen pengiriman TKI harus ditingkatkan. Sejak persiapan pemberangkatan, selama bekerja di negara tujuan hingga kembali ke tanah air. Calon TKI harus benar-benar siap untuk bekerja di luar negeri, memahami hak dan kewajibannya serta memahami aspek perlindungan terhadap diri sendiri. Ini akan meningkatkan posisi tawar TKI itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah selayaknya warga negara yang memilih bekerja sebagai TKI mendapat perlindungan dan dukungan optimal dari negara. Mereka sudah mengurangi beban pemerintah bahkan justru membantu melalui remitansi yang jumlahnya sangat signifikan. Pemerintah juga harus bersikap kooperatif dan memiliki peraturan yang lebih konkrit tentang TKI mengingat negara-negara seperti Singapura, Hongkong dan Taiwan memiliki undang-undang yang secara tegas mengatur dan melindungi para tenaga kerja asing yang bekerja di negaranya termasuk mereka yang bekerja di sektor informal sebagai PRT. Jika mereka saja yang hanya menampung tenaga kerja kita sangat bertanggung jawab, negaranya sendiri seharusnya lebih bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tulisan ini telah dimuat di Koran Jakarta, 21 Februari 2011&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4631244775522277631-7496289007391427179?l=ririnhandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/feeds/7496289007391427179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2011/11/menyongsong-zero-placement-tki.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/7496289007391427179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/7496289007391427179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2011/11/menyongsong-zero-placement-tki.html' title='Menyongsong Zero Placement TKI'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17039732141393988364</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4631244775522277631.post-8026583383865192561</id><published>2011-11-17T22:02:00.000-08:00</published><updated>2011-11-17T22:05:28.413-08:00</updated><title type='text'>Memerdekakan TKI dari Perbudakan</title><content type='html'>Upaya untuk menghapus perbudakan dan perdagangan budak telah diproklamirkan 178 tahun lalu, tepatnya pada 23 Agustus 1833 di Inggris. Namun hingga saat ini, praktik perbudakan dan perdagangan budak tetap berlangsung di seluruh penjuru dunia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perbudakan yang selama ini dikenal hanya sebagai kondisi dimana adanya pengontrolan terhadap individu (budak) oleh orang lain, kini telah mencakup berbagai macam bentuk termasuk pelanggaran terhadap hak asasi manusia seperti perbudakan tradisional, jual beli manusia (anak, wanita dan pria dewasa), perdagangan organ tubuh manusia, prostitusi dan penggunaan anak dalam konflik bersenjata. Di antara berbagai varian baru ini, human trafficking atau perdagangan manusia merupakan salah satu bentuk perbudakan modern yang banyak mendapat perhatian dunia internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Human trafficking  sendiri memiliki pendefinisian yang tidak jauh berbeda dari konsep perbudakan. Menurut protokol PBB tahun 2000, human trafficking didefinisikan sebagai perekrutan, pengiriman, pemindahan, penampungan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman atau penggunaan kekerasaan, atau bentuk pemaksaan lain seperti penculikan, penipuan, kecurangan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, atau bisa juga memberi atau menerima bayaran atau manfaat untuk memperoleh ijin dari orang yang mempunyai wewenang atas orang lain, untuk tujuan eksploitasi. Poin utama dari definisi ini dikaitkan dengan persoalan perbudakan adalah adanya upaya eksploitasi manusia untuk tujuan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut data PBB, perdagangan manusia saat ini sudah menjadi sebuah perusahaan kriminal terbesar ketiga di dunia setelah perdagangan senjata dan narkoba. Dari bisnis ini, para pelaku dapat meraup laba sekitar USD 7 miliar setiap tahunnya. Laporan Asia Development Bank (ADB) memperkirakan satu hingga dua juta manusia diperjualbelikan setiap tahunnya di seluruh dunia. Bahkan hingga tahun 2008 diperkirakan keuntungan yang didapat oleh traffickers mencapai USD 40 milyar. Salah satu korban trafficking yang kini menjadi pusat perhatian adalah para pekerja migran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perbudakan TKI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data resmi Departemen Luar Negeri Amerika Serikat tahun 2010 menyebutkan, Indonesia merupakan negara sumber utama human trafficking, negara tujuan dan transit bagi perempuan, anak-anak dan orang-orang yang menjadi sasaran human trafficking, khususnya prostitusi dan kerja paksa. Ini terjadi karena migrasi yang berlangsung di Indonesia adalah migrasi yang tidak aman, sehingga trafficking seakan menjadi bagian integral dalam proses migrasi itu sendiri. Mulai dari pemalsuan dokumen, pemalsuan identitas, umur, kemudian akses informasi yang tidak sampai ke basis calon buruh migran sampai minimnya perlindungan hukum dari negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk pekerja migran, Migrant Care Indonesia memperkirakan sebanyak 43 persen atau sekitar 3 juta dari total buruh migran Indonesia adalah korban human trafficking. Data ini tidak hanya mencakup pekerja migran yang bekerja secara illegal namun juga mereka yang secara resmi mengikuti mekanisme pemerintah alias pekerja migran legal. Korban perdagangan manusia sangat rawan terhadap eksploitasi, baik secara seksual maupun kerja paksa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mencatat, sepanjang tahun 2010 hingga 1 November, kasus penganiayaan yang menimpa TKI kita cukup tinggi. Yakni sebanyak 3.835 di 18 negara tujuan pengiriman. Ini yang berhasil didata. Kasus di lapangan dipastikan jauh lebih besar. Bahkan hampir setiap hari kita bisa mendapatkan kabar duka dari para pekerja migran kita. Mulai dari pelecehan seksual, penyiksaan baik fisik maupun mental yang menyebabkan depresi, cacat, sakit, gila bahkan meninggal dunia. Belum lagi pelanggaran hak-hak lainnya seperti gaji yang tidak dibayar dan tidak adanya waktu libur. Semua fakta dan data ini menegaskan bahwa banyak pekerja migran kita telah terjebak dalam perbudakan manusia modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tugas Berat Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak peristiwa penting terjadi terkait dengan persoalan TKI sepanjang dua pertiga tahun 2011 ini. Pengetatan pengiriman yang berakhir dengan moratorium total ke Arab Saudi, MoU dengan pemerintah Malaysia, hukum pancung terhadap Ruyati yang hanya berselang empat hari dengan pidato Presiden SBY di Konferensi ke-100 ILO, yang lalu diikuti dengan pembentukan Satgas TKI, penambahan anggaran dan sejumlah peristiwa dan terobosan penting lainnya. Sebuah kemajuan yang signifikan untuk memerdekakan TKI dari perbudakan modern. Namun, ini saja tidak cukup dan belum sepenuhnya mengena pada akar masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlindungan terhadap TKI akan lebih optimal jika pemerintah memiliki payung hukum yang kuat. Salah satunya dengan meratifikasi Konvensi Internasional tentang Perlindungan Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. Penting pula untuk membuat MoU dengan sejumlah negara tujuan terutama negara yang memiliki banyak catatan kasus praktik perbudakan seperti Arab Saudi. Aspek hukum ini harus ditindaklanjuti dengan peningkatan daya saing dan kompetensi TKI untuk meningkatkan posisi tawar mereka saat bekerja di luar negeri. Termasuk pembekalan informasi dan pengetahuan yang memadai tentang hak dan kewajiban mereka sebagai pekerja migran yang dilindungi oleh undang-undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat persoalan TKI sangat kompleks, banyak dan merata hampir di semua propinsi di tanah air, sudah saatnya pula bagi pemerintah daerah untuk mengambil inisiatif dan partisipasi lebih konkrit dalam masalah ini. Perlu ada burden sharing pengawasan dan penanganan yang lebih baik antara pusat dan daerah untuk menekan masalah TKI hingga ke level paling bawah. Selain sejumlah langkah strategis di atas, persoalan paling mendasar yang harus kita tuntaskan bersama adalah masalah kemiskinan dan ketidakadilan ekonomi. Karena inilah faktor utama penyebab perbudakan di seluruh penjuru dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini telah dimuat di Jawa Pos, 22 Agustus 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4631244775522277631-8026583383865192561?l=ririnhandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/feeds/8026583383865192561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2011/11/memerdekakan-tki-dari-perbudakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/8026583383865192561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/8026583383865192561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2011/11/memerdekakan-tki-dari-perbudakan.html' title='Memerdekakan TKI dari Perbudakan'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17039732141393988364</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4631244775522277631.post-4982156040247473659</id><published>2009-04-10T20:09:00.002-07:00</published><updated>2011-12-09T23:08:12.770-08:00</updated><title type='text'>I Always Be The Winner</title><content type='html'>Apa yang kau yakini, seperti itulah dirimu. Dan setiap orang akan menjadi seperti yang diinginkan, diyakini dan diperjuangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan, atau “mantra” menurut Prof.Dr.Roy Sembel, adalah suatu kekuatan yang mempengaruhi pikiran, emosi, dan tindakan seseorang untuk meraih kemenangan. Kekuatan yang juga bisa mempengaruhi pikiran, emosi, dan tindakan orang-orang di sekitarnya, yang secara “ajaib” memberikan dukungan penuh bagi sang pemenang untuk merealisasikan mimpinya. Kekuatan “mantra” ini biasanya akan semakin berlipat ganda jika menemukan momen yang tepat, dan didukung oleh orang-orang yang senantiasa memberi support dan iringan doa yang tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu berpikir bahwa saya adalah seorang pemenang. I’ll always be the winner. Mungkin ini pede yang berlebihan tapi inilah cara saya untuk menyemangati diri agar tidak menyerah dan terus berinovasi menuju kemenangan yang sesungguhnya. Kalimat sakti yang juga mandraguna untuk menyikapi kegagalan atau kekalahan. Karena kemenangan bagi saya lebih dari sekedar gelar, tetapi juga sekaligus mentalitas dan keyakinan. Kemenangan bukan hanya hasil akhir, tapi juga proses.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain keyakinan I’ll always be the winner, saya adalah orang yang sangat percaya bahwa tak ada perjuangan yang sia-sia sepanjang dilakukan dengan niat dan cara yang benar meskipun berakhir dengan sebuah kekalahan dalam sebuah kompetisi. Nothing to lose. Saya yakin, pasti ada “kemenangan” lain yang tersembunyi yang akan datang pada saat yang tepat. Saya juga sangat percaya pada kekuatan impian. The power of dream. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil saya sudah terbiasa membangun impian-impian yang indah bahkan mungkin spektakuler. Dan saya terus bermimpi hingga sekarang meski tak jarang banyak yang menertawakan, mencemooh atau bahkan mengasihani saya. Tapi saya tak ingin berhenti bermimpi karena mimpi telah membuat saya merasa lebih hidup, memiliki sejuta impian yang mungkin diraih. Kekuatan mimpi juga membuat saya merasa memiliki nyawa kedua, untuk memulai kehidupan baru setelah mengalami kegagalan atau kekalahan.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4631244775522277631-4982156040247473659?l=ririnhandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/feeds/4982156040247473659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2009/04/behind-winning-part-1-ill-always-be.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/4982156040247473659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/4982156040247473659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2009/04/behind-winning-part-1-ill-always-be.html' title='I Always Be The Winner'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17039732141393988364</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4631244775522277631.post-7008404641555593586</id><published>2009-04-10T20:09:00.001-07:00</published><updated>2011-02-18T04:39:17.246-08:00</updated><title type='text'>Penulis Besarpun Pernah Gagal</title><content type='html'>Tidak ada orang besar yang tiba-tiba menjadi besar tanpa berproses. Bahkan beberapa di antaranya yang melegenda harus mengalami kegagalan berulang kali. Salah satu contoh yang sangat mengesankan saya adalah kisah Soichiro Honda. Semangatnya untuk tidak menyerah menghadapi kegagalan demi kegagalan bahkan kehancuran demi kehancuran, sangat luar biasa. Begitu pula dengan kisah beberapa tokoh lain yang juga sangat inspiratif dalam meraih kesuksesan masing-masing. Seperti Abraham Lincoln, Sir Winston Churchill, Helen Keller, Thomas Alva Edison dsb. Segelintir orang yang meraih kemenangan sejati karena tidak takut untuk berkali-kali bangkit lagi ketika mereka jatuh.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sang Pemenang Sejati, seperti tokoh di atas juga bisa kita temui dalam dunia menulis. Sederet nama yang pantang menyerah untuk membuktikan eksistensi diri sebagai penulis sekaligus pemenang sejati. Joane Kathleen Rowling atau yang lebih populer dengan J.K.Rowling misalnya. Sama seperti Soichiro Honda, mungkin kita lebih mengenal kesuksesan Rowling daripada penolakan demi penolakan terhadap karya masterpiecenya, Harry Potter. Harry Potter yang telah membuat Rowling memiliki kekayaan melebihi kekayaan Ratu Inggris itu dulu pernah ditolak oleh 12 penerbit sebelum kemudian diterbitkan oleh sebuah penerbit kecil, Boomsbury, setahun kemudian. Tidak putus asa terhadap penolakanlah yang membuat Rowling seperti sekarang. Kini, karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam 61 bahasa di 200 negara dengan ratusan juta eksemplar.&lt;br /&gt;Contoh lain adalah Dan Brown yang terkenal dengan karya kontroversialnya, The Da Vinci Code. Karya yang telah diterjemahkan ke dalam 44 bahasa sebanyak 60,5 juta eksemplar di seluruh dunia tersebut menurut New York Times memberikan penghasilan sebanyak 250 juta dollar pada Brown. The Da Vinci Code adalah karya keempat Brown yang sempat diragukan oleh penerbit Simon &amp;amp; Shuster sebelum kemudian Brown pindah ke penerbit lain, Doubleday.&lt;br /&gt;Hampir semua penulis-penulis besar yang mencengangkan dunia pernah mengalami kegagalan demi kegagalan sebelum kemudian mereka dikenal sebagai penulis besar seperti sekarang. Dari kegagalan orang-orang besar di atas, banyak hikmah yang bisa kita ambil. Pertama, kegagalan atau kekalahan adalah hal yang biasa dan bukan akhir dari segalanya. Kedua, kegagalan sebagaimana sering dikatakan dalam nasehat klasik sebagai kesuksesan yang tertunda, nampaknya benar adanya. Dari kegagalan kita dapat belajar tentang apa kekurangan dan kelemahan diri sehingga kita belum layak menyandang gelar juara. Dari sanalah kita bertolak untuk berbuat lebih baik lagi sampai bisa meraih kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4631244775522277631-7008404641555593586?l=ririnhandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/feeds/7008404641555593586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2009/04/penulis-besarpun-pernah-gagal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/7008404641555593586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/7008404641555593586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2009/04/penulis-besarpun-pernah-gagal.html' title='Penulis Besarpun Pernah Gagal'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17039732141393988364</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4631244775522277631.post-3937681046717346459</id><published>2009-04-10T20:07:00.000-07:00</published><updated>2011-02-18T04:39:41.070-08:00</updated><title type='text'>Kemenangan Tidak Datang Begitu Saja</title><content type='html'>Everything is difficult but nothing is impossible. Segala sesuatu itu sulit tapi tidak ada yang tidak mungkin. Termasuk menjadi seorang pemenang dalam kompetisi menulis. Sebenarnya, setiap orang bisa menulis dan setiap orang bisa menjadi pemenang.&lt;br /&gt;Meraih kemenangan, dalam konteks apapun termasuk dalam kompetisi menulis, seperti mendaki gunung yang terjal. Itulah hakikat sebuah kemenangan. Susah dicapai, melelahkan dan terkadang butuh waktu yang lama. Karenanya, perlu banyak persiapan yang matang karena perjalanan yang harus dilalui tidak mudah, banyak aral melintang, sangat melelahkan dan tidak selalu menjanjikan kemenangan. Semakin susah diraih, biasanya kemenangan akan terasa semakin manis dan indah.&lt;br /&gt;Semangat adalah modal awal yang harus kita miliki dalam setiap perjuangan. Kerja keras yang akan membantu kita mewujudkan segala impian dan hanya ijin Allah yang akan menentukan setiap keberhasilan. Semangat, meski berperan sangat penting bagi tercapainya sebuah kemenangan, tak akan berarti apa-apa jika tidak disertai langkah-langkah nyata. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda ingin belajar menulis, jika Anda ingin berkompetisi dan berharap menang, jangan hanya berkontemplasi dan bermimpi. Segera ambil pena atau ketik di keyboard dan tuangkan segala ide dan pemikiran yang ada di kepala. Awalnya mungkin susah dan membingungkan. Semangat yang besar untuk belajar dan menang harusnya dapat membantu anda melawan rasa itu. Saya sendiri sering dilanda putus asa baik dalam menemukan ide maupun dalam menyelesaikan sebuah tulisan ketika deadline semakin dekat. Sering merasa tidak mampu, merasa tidak menguasai, data kurang, atau ide yang tiba-tiba buntu. Kalau sudah begini, ingin rasanya melarikan diri dari arena peperangan. Tapi tentu saja, saya tak ingin menyerah apalagi jika garis finish sudah di depan mata.&lt;br /&gt;Untuk menjadi seorang penulis yang baik khususnya dalam rangka menjadi seorang pemenang dalam kompetisi menulis, membaca adalah kegiatan sekaligus prasyarat yang tidak bisa ditawar. Karena di sinilah sumber stock of knowledge kita. Membaca di sini tidak hanya dalam arti membaca teks (tulisan dari berbagai sumber dan bentuk), tetapi juga konteks (realitas).&lt;br /&gt;Beruntung sekali, sejak awal kuliah dulu saya bisa berteman dengan sekelompok mahasiswa yang sangat gila membaca. Selain buku-buku tentang ilmu politik, buku favorit mereka yang lain adalah buku-buku filsafat seperti tulisan Karl Max, Sigmund Freud, dsb. Sedikit banyak “virus” itu juga menular pada saya. Saya sempat begitu “tergila-gila” membaca buku-buku Karen Armstrong, Sang Ilmuwan Jenius. Demikian saya menyebutnya dulu. Agar tak tertinggal dengan bacaan teman-teman yang sudah lebih dulu terbiasa melahap buku-buku tebal, saya menjadikan diskusi sebagai cara lain untuk membaca. Saya aktif mengajak mereka berdiskusi tentang buku-buku baru yang mereka baca sehingga walaupun saya belum membacanya, sedikit banyak saya sudah tau. Jadi, gak kuin-kuin banget-lah.&lt;br /&gt;Selain semangat dan kerja keras yang besar, didukung oleh kegiatan membaca yang optimal, mengikuti lomba menulis juga memerlukan cost yang tidak sedikit. Pertama, waktu. Lomba menulis umumnya memiliki rentang waktu 1-2 bulan sejak pertama kali diumumkan sampai batas akhir pengumpulan naskah. Kurang lebih selama itu pula waktu yang kita punya sekaligus waktu yang harus kita korbankan di sela-sela kegiatan kita yang lain, baik sebagai pelajar, mahasiswa, dosen, wartawan atau siapa saja. Banyak orang melewatkan suatu lomba menulis padahal sudah punya ide yang bagus karena terbentur masalah waktu. Mereka merasa tak punya waktu. Dalam hal ini, diperlukan kemampuan untuk memenej waktu sebaik mungkin sehingga sebuah kesempatan bagus yang belum tentu akan berulang tidak lewat begitu saja. Cost kedua yang tak kalah penting dan menentukan adalah biaya. Mengikuti lomba menulis membutuhkan dana yang tidak sedikit. Mulai dari penyediaan materi, hunting data di internet, biaya pengetikan, penyetakan, penggandaan, dll hingga pengiriman. Untuk sebuah lomba menulis paling tidak saya harus mengeluarkan dana sekitar 100-200 ribu rupiah. Nominal ini akan terasa besar dan memberatkan bagi sebagian orang terutama pelajar dan mahasiswa dengan uang saku pas-pasan. Cost yang besar seringkali pula menjadi beban tersendiri jika kemudian tidak menang. Oleh karena itu sekali lagi saya tekankan, jadikan aktualisasi dan apresiasi sebagai motivasi utama dalam mengikuti lomba menulis. Dengan begitu, kalaupun nantinya kita belum berhasil menang atau kemenangan yang kita dapat tidak seperti yang kita harapkan, InsyaAllah tidak akan terlalu kecewa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4631244775522277631-3937681046717346459?l=ririnhandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/feeds/3937681046717346459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2009/04/kemenangan-tidak-datang-begitu-saja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/3937681046717346459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/3937681046717346459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2009/04/kemenangan-tidak-datang-begitu-saja.html' title='Kemenangan Tidak Datang Begitu Saja'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17039732141393988364</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4631244775522277631.post-5624767986574226873</id><published>2009-04-10T20:05:00.000-07:00</published><updated>2011-02-18T04:40:59.960-08:00</updated><title type='text'>Mengapa Saya Memilih Lomba Sebagai Ajang Aktualisasi diri?</title><content type='html'>Awalnya saya hanya ingin menulis dan terus menulis hingga suatu saat saya benar-benar bisa menulis. Dan untuk itu saya merasa membutuhkan penilaian dan masukan dari orang lain yang memang expert sehingga masukan yang diberikannya akan semakin mengakselerasi proses belajar dan kemampuan saya menulis. Tapi saya tidak tau harus ke mana dan pada siapa. Teman, dosen atau siapa?&lt;br /&gt;Untuk pilihan pertama, saya tidak yakin bisa menemukan orang yang tepat yang bisa memberikan pendapat yang membangun terhadap tema yang saya tulis mengingat bahwa mahasiswa seperti itu adalah populasi langka dalam dunia akadamik kita yang semakin hedonis dan apatis. Belum tentu juga mereka tertarik pada dunia tulis menulis. Untuk bersharing ria dengan dosen, saya tidak yakin mereka mau dan punya waktu untuk membaca dan memberikan komentar terhadap tulisan saya di antara kesibukan-kesibukan dan bahasan intelektual tingkat tinggi mereka. Apalah artinya tulisan picisan saya yang datar dan basi banget.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di atas semua alasan-alasan ini sebenarnya ada alasan yang lebih kuat yakni saya tidak pede tulisan saya dibaca orang lain, apalagi orang yang saya kenal dan mengenal saya. Bisa-bisa gobloknya ketauan. Sedangkan kalau mengirimkan ke media massa, saya sudah yakin tulisan saya tidak masuk kualifikasi. Sebuah kesia-siaan, pikir saya waktu itu. Lalu ke mana tulisan-tulisan saya sekarang harus berguru?&lt;br /&gt;Setelah berpikir cukup lama, tiba-tiba muncul ide untuk ikut lomba menulis. Ide itu tidak serta merta bisa direalisasikan. Pertama karena saya tidak punya informasi tentang lomba. Kedua, saya tidak tau bagaimana caranya karena selama empat semester kuliah, pembicaraan tentang hal itu nyaris tak terdengar baik dalam obrolan teman-teman seangkatan maupun kakak-kakak senior. Bahkan saya menangkap, lomba menulis apalagi menjadi pemenang seolah merupakan salah satu utopia yang sangat tidak mungkin. Begitu melangit untuk dicapai orang-orang bumi dengan kapasitas intelektual pas-pasan.&lt;br /&gt;Mungkin saya harus melakukannya sendiri, hibur saya pada diri sendiri. Memikirkan sendiri, mencita-citakannya sendiri, cari informasi sendiri, menulis dan berjuang sendiri untuk meraih kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4631244775522277631-5624767986574226873?l=ririnhandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/feeds/5624767986574226873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2009/04/mengapa-saya-memilih-lomba-sebagai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/5624767986574226873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/5624767986574226873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2009/04/mengapa-saya-memilih-lomba-sebagai.html' title='Mengapa Saya Memilih Lomba Sebagai Ajang Aktualisasi diri?'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17039732141393988364</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4631244775522277631.post-6417181821122733035</id><published>2009-04-10T19:54:00.000-07:00</published><updated>2011-02-18T04:03:18.489-08:00</updated><title type='text'>Seluk Beluk tentang Lomba Menulis</title><content type='html'>&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Mungkin banyak di antara kita yang hingga kini belum bisa membaca potensi yang Allah karuniakan pada diri kita. Percayalah bahwa setiap makhluk diciptakan dengan potensinya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita termasuk orang yang belum bisa membaca potensi diri, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengenal diri. Sesorang tak akan mengenal Tuhannya sebelum ia mengenal dirinya. Bagaimana cara mengenal diri? Pertama, tanyakan apa yang Anda suka. Kedua, tanya apa yang Anda inginkan?&lt;br /&gt;Ketika Ayat-ayat Cinta Habiburrahman Elshirazy dan Laskar Pelangi Andrea Hirata meledak di pasaran, saya termasuk orang yang juga berambisi membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga motivasi besar yang melatarbelakangi. Pertama, antara 10-15 persen motivasi saya adalah ingin tau alur ceritanya; sekitar 30 persen lainnya saya ingin belajar bagaimana cara dan karakter tulisan mereka sebagai referensi. Sedangkan lebih dari 50 persen sisanya, saya ingin menulis dan menghasilkan karya nyata seperti mereka. Ya, motivasi terbesar saya membaca buku-buku mereka adalah motivasi yang berorientasi pada produksi, sementara tujuan konsumtif hanya menempati sejumlah kecil persen saja.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Bakat seseorang juga bisa dinilai dari caranya menyikapi keadaan. Orang yang memiliki bakat terhadap suatu bidang, biasanya ia bisa melihat peluang dari bidang yang diminatinya tersebut. Suatu penglihatan atau feeling yang mungkin tak terlihat, tak terpikirkan atau bahkan dianggap tidak mungkin oleh orang lain.&lt;br /&gt;Jika Anda sudah mengenal diri dan potensi yang Anda miliki, maka saatnya untuk focus dan membangun impian. Teruslah berlatih dan jangan pernah menyerah. Jangan pula melewatkan kesempatan untuk menjadi seorang pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formula ini berlaku pada bidang apapun yang Anda minati. Termasuk dunia menulis.&lt;br /&gt;Khusus untuk bidang menulis, ada banyak hal pada diri kita yang sebenarnya dapat kita maksimalkan untuk mendukung minat dan bakat yang satu ini. Potensi yang barangkali belum kita sadari atau bahkan selama ini lebih kita kenali sebagai kekurangan diri. Sebagai contoh, sejak kecil saya suka melamun. Dalam persepsi umum, melamun identik dengan berdiam diri dengan tatapan kosong, alias bengong. Suatu keadaan yang dikhawatirkan akan berpotensi masuknya makhluk lain pada diri yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat dan kritik terhadap hobi saya yang satu ini sempat juga membuat saya khawatir dan mencoba membatasi diri melamun agar jangan sampai “kerasukan”. Tapi lama-lama setelah saya bisa berpikir dengan sedikit lebih cermat, apa yang harus saya khawatirkan dengan “melamun” berlama-lama? Kalaupun orang lain menilai itu terlihat blank, saya merasa tidak demikian. Ketika terlihat melamun, memakai istilah yang sedikit kreatif, sebenarnya saya sedang berimajinasi; memikirkan sesuatu atau sedang berkomunikasi secara intrapersonal dengan diri sendiri. Dan saya rasakan, begitu banyak manfaat yang bisa saya dapatkan dari kegiatan “diam” tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain dalam diri yang sebelumnya saya anggap sebagai kelemahan tetapi kemudian ternyata memiliki manfaat yang luar biasa adalah tipologi saya yang sangat perasa. Sejak kecil pula, saya sudah terbiasa memasukkan hal-hal kecil baik perkataan, perbuatan atau peristiwa, ke dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memikirkannya berhari-hari bahkan berminggu-minggu hingga tak enak makan dan tidur bahkan tak jarang diikuti dengan menangis yang juga bisa berlangsung lama. Keluarga banyak menasehati agar kebiasaan yang satu ini dikurangi karena menyiksa diri sendiri. Memang benar apa kata mereka. Masalahnya saya tidak bisa begitu saja mengusirnya, sifat ini seolah sudah menyatu dengan diri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan proses pengenalan diri yang terus menerus saya lakukan dan percaya bahwa Allah memberikan sesuatu bukan tanpa alas an dan tujuan, Alhamdulillah ternyata kebiasaan yang dulu saya anggap sebagai kelemahan dan menyiksa diri, justru sangat membantu saya dalam mengembangkan hobi dan aktivitas saya menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berperasaan berlebihan yang dulu saya gunakan untuk merasai segala sesuatu yang terjadi, kini saya gunakan secara selektif hanya untuk hal-hal yang memiliki nilai manfaat. Merasai dengan mendalam hal-hal kecil yang mungkin terlihat biasa atau bahkan tak terpikirkan oleh orang kebanyakan menjadi sebuah ide besar untuk sebuah tulisan yang ternyata kemudian beberapa kali justru menghantarkan saya menjadi pemenang dalam kompetisi menulis. Berperasaan secara berlebihan kini sangat membantu saya menangkap banyak inspirasi yang berserakan di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain melamun dan berperasaan secara berlebihan, saya percaya masih banyak potensi dalam diri kita yang bisa kita gali dan kemudian dioptimalkan untuk mendukung bakat dan minat kita dalam bidang tertentu. Anda yang suka bicara, mungkin berbakat menjadi MC atau wartawan. Anda yang suka berteman, bisa memanfaatkan itu sebagai jaringan yang potensial untuk bidang pemasaran dan sebagainya. Percayalah, bahwa Allah mengaruniakan segala sesuatu bukan tanpa tujuan dan alasan. Jika setelah kesulitan pasti ada kemudahan, maka InsyaAllah di balik kekurangan juga ada kelebihan. Bergantung sisi mana yang ingin lebih kita tonjolkan. Bergantung pula sebesar apa upaya kita untuk mengarahkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Berkompetisi, Siapa Takut?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak cara dan sarana untuk mengaktualisasikan diri dalam dunia tulis menulis. Untuk yang suka fiksi, bisa mengaktualisasikannya dalam bentuk cerpen atau novel. Mengirimkannya ke media atau menerbitkannya menjadi sebuah buku. Untuk yang suka menulis artikel ilmiah populer, media cetak memberi ruang cukup terbuka untuk beraktualisasi diri. Ada satu sarana lagi yang bisa dimanfaatkan baik untuk yang suka fiksi atau tulisan ilmiah populer, yakni kompetisi menulis.&lt;br /&gt;Siapapun bisa menjajal kemampuan diri dalam menulis melalui kompetisi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda yang hobi menulis, atau Anda yang bingung tidak tau harus ke mana mengirimkan tulisan untuk mendapat apresiasi, atau Anda sekalipun yang merasa tak bisa menulis namun ingin belajar menulis, bisa menjadikan ajang ini sebagai sarana belajar, aktualisasi sekaligus apresiasi diri. Bagi yang memang hobi dan sudah bisa menulis, mungkin tidak terlalu sulit untuk melangkah sedikit lagi menuju arena kompetisi. Namun bagi yang baru mulai belajar dan menemui sekian kendala untuk menulis, kompetisi menulis mungkin terasa begitu utopis. Bagaimanapun, jangan takut dan mudah menyerah. Tidak ada yang tidak mungkin meski sulit untuk mewujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajang yang satu ini memang belum sepopuler kompetisi lain seperti dalam bidang musik ataupun olahraga. Terlebih dalam pandangan generasi muda. Kompetisi menulis masih dianggap sangat prestisius hanya untuk kalangan yang berintelektualitas tinggi. Mindset inilah yang menjadi salah satu hambatan utama kurang membludaknya minat masyarakat seperti pada kompetisi lain. Tidak mengherankan jika dalam beberapa kompetisi menulis yang pernah saya ikuti, peserta dan pemenangnya ya itu-itu saja. Sayang, padahal banyak manfaat dan keuntungan yang bisa kita peroleh di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka mengembangkan budaya dan kemampuan menulis, kompetisi menulis merupakan sarana yang tepat untuk belajar sekaligus untuk melihat kemajuan proses belajar itu sendiri. Berbeda dengan jika mengirimkan tulisan ke media massa atau penerbit, umumnya kita harus menunggu berbulan-bulan bahkan bisa satu tahun lamanya untuk mendapat kepastian apakah tulisan kita layak muat atau tidak. Dalam kompetisi menulis, cukup 1-2 bulan bahkan terkadang hanya dalam 2 minggu kita akan tau bagaimana nilai tulisan kita. Jika menang, berarti tulisan kita bagus. Alhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jika kalah alias tidak menang, berarti kita harus belajar lebih baik lagi. Dari segi honor, nominal yang kita dapatkan dari lomba menulis jika beruntung, bisa sepuluh kali lipat atau bahkan lebih dari honor yang kita dapat dari pemuatan tulisan di media cetak.   Manfaat lain dari kompetisi menulis, khususnya karya tulis ilmiah populer, adalah melatih kita bersikap kritis dan inovatif dalam menyikapi perubahan dan persoalan aktual yang terjadi di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak menutup kemungkinan, pemikiran dan ide yang kita sumbangkan dapat memberi kontribusi dalam mencari solusi alternatif. Lebih spesifik terkait dengan upaya membangun mentalitas dan budaya konstruktif, kompetisi menulis dapat mengakselerasi terciptanya budaya menulis. Budaya menulis tidak akan terbangun kokoh tanpa ditunjang oleh budaya membaca yang baik. Dua budaya dapat terbangun sekaligus. Di sisi lain, kompetisi akan memberi pengaruh positif terhadap terbentuknya mentalitas berani bersaing. Suatu karakter yang harus dimiliki oleh masyarakat suatu negara yang tidak ingin tergilas roda globalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Apa, Siapa, Kapan dan Bagaimana?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Seluk beluk tentang kompetisi menulis yang akan saya bahas di sini memiliki kecenderungan lebih pada ilmu-ilmu social meski tidak menutup kemungkinan memiliki persamaan atau dapat diaplikasikan dalam kompetisi menulis di bidang eksakta khususnya yang bersifat non-eksperimen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa nama yang biasa digunakan untuk menyebut kompetisi atau lomba menulis. Antara lain lomba menulis, lomba karya tulis, lomba karya tulis ilmiah, atau sayembara menulis. Kesemua nama tersebut sebenarnya memiliki makna yang kurang lebih sama, yakni sebuah kompetisi menulis tentang suatu tema yang telah ditetapkan. Tulisan yang disertakan dalam lomba memiliki unsur keilmiahan, dapat dipertanggungjawabkan serta diharapkan dapat memberi solusi alternatif terhadap permasalahan yang dijadikan tema lomba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “ilmiah” seringkali menjadi momok yang menakutkan. Padahal tidak selalu begitu. Keilmiahan dalam konteks lomba menulis dapat diartikan sebagai suatu pemikiran yang disampaikan melalui tulisan yang mampu menganalisa permasalahan berdasarkan pemikiran, opini, konsep maupun teori yang dapat dipertanggungjawabkan dan memiliki nilai manfaat dalam bahasa dan penyampaian yang mudah dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terlalu muluk kan? Hanya saja, kata “ilmiah” akan memiliki makna lebih jika si penyelenggara lomba menulis adalah lembaga pendidikan seperti Dikti, Diknas, Perguruan Tinggi atau LIPI. Ilmiah dalam konteks ini tidak hanya dalam arti substansial tetapi juga dalam tataran teknis penulisan/penyampaian. Formatnya kurang lebih seperti skripsi.   Detil dan lengkap mulai halaman sampul (cover) hingga daftar pustaka. Lomba keilmiahan semacam ini biasanya hanya diperuntukkan bagi kalangan internal dunia akademis, seperti pelajar, mahasiswa, guru dan dosen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar itu, begitu banyak lomba menulis diselenggarakan sepanjang tahun. Dan sebagian besar bahkan hampir semuanya lebih menekankan keilmiahan dari segi substansial. Lomba menulis semacam inilah, khususnya di level tingkat nasional, yang akan saya bahas lebih lanjut.&lt;br /&gt;Sedikit sekali even kompetisi menulis yang diserbu banyak peserta. Salah satunya yang masih saya ingat adalah The Power of Dream Honda pada tahun 2001 dengan jumlah tulisan yang hampir 1.500. Selebihnya biasanya tidak lebih dari 200 peserta, itupun akumulasi dari berbagai kategori mulai pelajar SMP, SMU, mahasiswa, hingga umum dan wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba menulis sendiri biasanya dibagi dalam beberapa kategori. Empat kategori yang paling umum adalah pelajar, mahasiswa, wartawan dan umum. Adakalanya suatu lomba hanya ditujukan untuk kategori tertentu, sering terjadi mencakup beberapa kategori sekaligus. Pastikan Anda memenuhi kategori yang ditentukan penyelenggara karena jika tidak, sebagus apapun tulisan Anda, Anda akan tetap didiskualifikasi. Berikut beberapa hal terkait lomba menulis yang penting untuk kita ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Waktu, Penyelenggara dan Tema&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; &lt;br /&gt;Ketiga item ini biasanya saling terkait. Sepanjang tahun sebenarnya banyak sekali lomba menulis yang diselenggarakan. Waktu penyelenggaraan biasanya bertepatan dengan momen atau hari jadi suatu lembaga atau organisasi yang biasanya langsung merangkap menjadi panitia penyelenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temanya biasanya disesuai dengan tema dan penyelenggaranya. Sebagai contoh, dalam rangka hari Koperasi. Lomba biasanya diadakan menjelang tanggal 12 Juli, bertepatan dengan hari jadi Koperasi. Penyelenggara biasanya dan hampir bisa dipastikan adalah Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia. Sesuai dengan momen dan penyelenggaranya, tema yang diangkat biasanya seputar masalah koperasi dan UKM. Contoh lain adalah karya tulis perpajakan. Penyelenggaranya adalah Direktorat Jenderal Pajak. Lomba biasanya diadakan menjelang hari Keuangan 31 Oktober dan tema yang diangkat umumnya adalah tema-tema aktual mengenai pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lomba-lomba menulis yang mengambil moment hari jadi suatu lembaga atau organisasi, biasanya informasi lomba dipublikasikan 1-2 bulan sebelumnya. Lembaga pemerintah biasanya mensosialisasikan lomba melalui situs, surat ke lembaga terkait di daerah atau melalui media massa. Terkadang jika segmen lomba adalah pelajar dan mahasiswa, sosialisasi juga disampaikan ke sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Agar tidak ketinggalan informasi lomba dalam kategori ini, mulailah menginventarisasi data hari atau momen penting yang biasanya diperingati setiap tahun. Rajin mengunjungi situsnya atau baca informasinya di media cetak nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak selalu waktu, penyelenggara dan tema saling berkaitan. Biasanya organisasi atau perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kategori ini. Tema yang diangkat biasanya seputar masalah aktual yang tengah terjadi, misalnya tentang lingkungan hidup, kemiskinan, pendidikan dan sebagainya. Karena tidak bisa ditebak kapan, oleh siapa dan apa temanya, kita bisa mengantisipasinya dengan sering mengunjungi situs atau blog yang biasanya memuat informasi tentang lomba menulis. Penting juga untuk selalu memantau informasi di media cetak nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank Indonesia adalah lembaga pemerintah yang paling rutin mengadakan lomba menulis, baik untuk pelajar, mahasiswa, wartawan maupun umum. Dalam setahun bisa 3-4 kali atau bahkan lebih. Tema yang diangkat tentu saja berkaitan dengan kebanksentralan, perbankan, perbankan syariah, ekonomi, dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Mekanisme&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Hal lain mengenai lomba menulis yang kurang dipahami publik adalah mekanisme dari lomba menulis itu sendiri. Mulai dari masalah teknis penulisan, pengiriman hingga penentuan pemenang. Kurangnya pengetahuan tentang yang satu ini tak jarang menyurutkan langkah untuk mengikuti sebuah kompetisi menulis. Saya pernah mengalaminya sendiri dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba menulis sepertinya masih dianggap prestisius dan identik dengan intelektualitas tingkat tinggi. Apalagi jika lomba tersebut diembel-embeli kata “ilmiah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah saya sebutkan di atas, sepanjang penyelenggara bukan lembaga pendidikan dan mereka tidak memberikan ketentuan penulisan secara ilmiah seperti skripsi misalnya, maka kembangkanlah pemikiran kritis dan ide inovatif Anda dalam sebuah tulisan dan bebaskan diri Anda untuk menyampaikannya menurut sudut pandang dan style Anda sendiri sepanjang penyampaian dan penulisannya tetap sistematis agar mudah dipahami pembaca. Inilah yang saya maksud sebagai keilmiahan dalam konteks substansial. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana gambaran umum teknik penulisan karya tulis yang bersifat ilmiah secara substansial tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelenggara biasanya menyebutkan dengan jelas bagaimana teknis penulisan lomba. Misalnya berapa jumlah halaman minimal dan maksimal, kertas yang digunakan, batas margin, huruf dan sebagainya. Berapa copy eksemplar yang harus dikirim, disertai softcopy atau tidak. Mengenai jumlah halaman, untuk semua kategori kecuali wartawan, umumnya bisa digolongkan dalam tiga klasifikasi yakni sedikit, sedang dan banyak. Untuk kategori sedikit biasanya jumlah halaman berkisar antara 5-10 halaman; kategori sedang berkisar 10-15 halaman sedangkan untuk kategori banyak biasanya minimal 20 halaman dengan batas maksimal 30, 40 atau 50 halaman. Masing-masing memiliki karakter dan metode penulisan yang berbeda satu sama lain. Akan dijelaskan lebih detil pada bagian Share of Experience : Bagaimana Saya Menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Softcopy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; biasanya dalam bentuk disket atau CD. Yang pasti tulisan harus disertai dengan fotocopi identitas diri, baik KTP, SIM, Kartu Mahasiswa atau Kartu Pelajar sesuai dengan kategori masing-masing. Saran saya untuk masalah teknis ini, ikutilah semua ketentuan yang ditetapkan tanpa melebihkan atau menguranginya.&lt;br /&gt;Tidak semua lomba menulis menjelaskan dengan detil tentang masalah teknis di atas. Namun ini sangat jarang. Untuk lomba yang tidak merinci ketentuan teknis penulisan, kita bisa gunakan panduan teknis lomba serupa sebagai panduan. Selanjutnya adalah pengiriman. Ada dua bentuk pengiriman naskah yang paling umum, yakni melalui pos dan atau email. Untuk batas pengiriman melalui pos, biasanya disertai keterangan, “paling lambat dikirim (cap pos)” atau “paling lambat diterima”. Jika keterangannya paling lambat dikirim, Anda dapat mengirimkannya paling lambat tanggal yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jika dituliskan “paling lambat diterima” maka kirimkan naskah paling lambat 5-7 hari sebelum tanggal yang ditentukan. Bergantung berapa lama standar pengiriman dari daerah Anda ke kota tujuan, misalnya Jakarta. Lebih aman jika Anda menggunakan layanan Kilat Khusus untuk mengantisipasi keterlambatan. Saya sarankan menghindari pengiriman melalui jasa pengiriman selain Kantor Pos karena biayanya bisa berkali lipat dibandingkan biaya pengiriman melalui Kantor Pos.&lt;br /&gt;Untuk pengiriman melalui email, selain murah juga simple. Biasanya pengiriman naskah dalam format MS Word atau PDF. Untuk pengirimin melalui email biasanya saya mengirimkan satu hari sebelum batas akhir atau maksimal pagi atau siang hari pada hari terakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini selesailah perjuangan kita kecuali masih ada sesi presentasi sebagai salah satu mekanisme penilaian. Biasanya mekanisme ini diperuntukkan untuk kategori pelajar dan mahasiswa meski terkadang kategori lain seperti kategori umum dan wartawan juga menjalani mekanisme serupa. Lomba karya tulis mahasiswa oleh Bank Indonesia biasanya memakai sesi presentasi. Sedikit berbeda dengan penyelenggara lain, Bank Indonesia biasanya memberitahu peserta melalui telfon antara 1-2 hari sebelum hari H bahkan pernah ada finalis yang dipanggil beberapa jam sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lomba menulis tingkat nasional, presentasi diadakan di kota tempat penyelenggara berada. Biasanya Jakarta. Peserta dihubungi lewat telepon, email atau surat kira-kira satu minggu sebelumnya. Untuk keperluan presentasi ini, biaya transportasi (umumnya dengan pesawat kelas ekonomi) dan akomodasi selama di Jakarta ditanggung oleh penyelenggara. Jika penyelenggara bonafide, biasanya peserta masih mendapat tambahan uang saku. Apa yang dipersiapkan jika melalui tahap penilaian seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama tentu saja, bersyukur kepada Allah, Alhamdulillah. Bukan hal yang mudah terpilih menjadi salah satu dari 5-10 finalis dari sekian puluh atau bahkan ratusan peserta yang mengirimkan naskah. Selanjutnya persiapan teknis. Jika memungkinkan, mintalah bantuan orang-orang di sekitar Anda yang memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang presentasi. Guru jika anda pelajar, atau dosen jika anda mahasiswa atau siapa saja yang bisa membantu anda dalam masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presentasi umumnya disajikan dalam bentuk power point. Karena waktu presentasi umumnya singkat, antara 10-15 menit, dan sekitar 30 menit untuk sesi tanya jawab, maka buatlah poin-poin presentasi yang memuat hal-hal paling pokok dari tulisan anda. Bisa dimulai dari latar balakang masalah, permasalahan, hipotesa, pembahasan, kesimpulan dan saran. Upayakan item pembahasan memiliki proporsi lebih banyak dari item lain karena biasanya poin inilah yang paling disorot dan menentukan penilaian. Jika ada, sertakan data-data statistik yang akan memperkuat paparan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah halaman bahan presentasi ini kurang lebih 10-15 halaman disesuaikan dengan kemampuan anda dan banyaknya waktu yang disediakan.   Ada dua bentuk forum presentasi yang biasa digunakan. Pertama, forum tertutup. Audiens biasanya hanya terdiri dari beberapa dewan juri dan seorang operator yang membantu kita mengoperasikan power poin. Sedangkan untuk forum yang terbuka, selain dewan juri, peserta lain baik yang sudah atau belum presentasi juga ada di dalam ruangan. Bisa jadi ada pula wartawan yang meliput. Pemenang sendiri biasanya diumumkan segera setelah presentasi selesai kemudian dipublikasikan melalui media massa atau internet. Secara umum, jarak waktu antara batas akhir pengiriman naskah dan pengumuman pemenang kurang lebih satu bulan. Bisa lebih cepat bahkan bisa lebih lama jika jumlah naskah yang masuk membludak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Hadiah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Inilah barangkali daya tarik terbesar yang memotivasi masyarakat untuk mengikuti lomba menulis selain sebagai ajang aktualisasi diri. Memang cukup menggiurkan terlebih jika penyelenggara adalah lembaga atau perusahaan yang bonafide. Pada umumnya hadiah bagi pemenang lomba karya tulis berupa uang tunai, barang, atau fasilitas lain atau gabungan dari beberapa hadiah sekaligus. Yang pasti, pemenang mendapatkan piagam perhargaan bahkan terkadang peserta yang tidak menangpun diberi juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua meknisme pemberian hadiah, langsung atau tidak langsung. Pemberian secara langsung yakni pemenang (baik seluruh atau hanya sebagian) diundang ke Jakarta untuk prosesi penyerahan hadiah. Sementara untuk pemberian hadiah secara tidak langsung, hadiah dikirimkan melalui jasa pos/pengiriman ke alamat masing-masing pemenang. Begitu pula dengan piagam penghargaan untuk peserta yang tidak menang.&lt;br /&gt;Untuk hadiah dalam bentuk uang tunai, besarnya hadiah untuk kategori pelajar dan mahasiswa dalam beberapa tahun terakhir berkisar pada nominal 8-10 juta rupiah untuk pemenang pertama, sedangkan untuk kategori umum dan wartawan berkisar 10-15 juta rupiah untuk pemenang pertama. Untuk pemenang kedua dan ketiga biasanya selisih antara 2-3 juta rupiah dengan jumlah hadiah pemenang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua lomba menulis memberikan nominal yang sama, bisa lebih bisa juga kurang dari nominal yang telah saya sebutkan tadi. Untuk hadiah dalam bentuk barang, beberapa barang yang sering dijadikan hadiah dalam lomba menulis antara lain notebook dan kamera digital. Selain uang dan barang, terkadang pemenang masih diberi hadiah tambahan lain seperti buku atau paket wisata.   Contohnya lomba menulis esai Korea. Selain mendapat uang tunai, pemenang I dan II baik kategori pelajar atau mahasiswa juga mendapat kesempatan jalan-jalan ke Korea selama satu minggu. Panasonic juga pernah memberikan hadiah serupa. Untuk pemenang pertama baik kategori pelajar maupun mahasiswa, selain mendapat hadiah uang tunai sebesar 20 juta rupiah untuk mahasiswa dan 15 juta rupiah untuk pelajar, juga mendapat kesempatan berwisata ke Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lion Air juga pernah memberikan hadiah yang sangat menarik selain hadiah uang tunai yang cukup besar, yakni tawaran untuk bergabung dengan Lion Air bagi pemenang dari kategori mahasiswa setelah menyelesaikan studi. Menarik bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain hadiah-hadiah di atas, masih ada “hadiah” lain yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi penulis yakni pembukuan naskah. Terkadang penyelenggara membukukan naskah pemenang dan finalis untuk kalangan terbatas. Selain sebagai bentuk apresiasi terhadap para penulis dan pemenang, tujuan lain dari pembukuan naskah tersebut adalah sebagai sarana rekomendasi kepada pihak terkait. Selama mengikuti lomba dalam beberapa tahun terakhir, ada tiga naskah lomba saya yang dibukukan oleh penyelenggara, yakni naskah pada lomba karya tulis perbankan syariah oleh BNI Syariah dan Harian Republika, naskah lomba tentang pengentasan kemiskinan oleh LP3ES dan yang terakhir adalah naskah lomba karya tulis perpajakan yang dibukukan oleh Direktorat Jenderal Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan akhir tentang hadiah lomba karya tulis ini, meski hadiah bisa jadi merupakan daya tarik yang sangat besar, sebaiknya jangan jadikan ini sebagai motivasi utama. Tanamkan motivasi terbesar dalam diri yakni menjadikan lomba menulis sebagai sarana belajar, aktualisasi pemikiran dan apresiasi terhadap karya dalam bingkai mencari keridhoan Allah SWT. Dengan begitu, InsyaAllah proses belajar dan hasil yang kita capai akan berkah. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Informasi, Gerbang Pertama Menuju Kemenangan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan yang cukup dan semangat besar berkompetisi biasanya tersandung masalah berikutnya yakni informasi. Siapa yang menguasai informasi, dialah yang akan menguasai dunia. Formula ini juga berlaku dalam kancah lomba menulis. Sangat disayangkan bahwa penyampaian informasi tentang lomba menulis hingga sekarang masih belum optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman saya kuliah dulu, saat saya belum banyak tau tentang bagaimana mencari informasi mengenai lomba menulis, saya bersifat pasif dan lebih banyak menunggu informasi datang sendiri atau mendapatkannya secara kebetulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, menunggu informasi itu ditempelkan di papan pengumuman baik di fakultas maupun universitas. Orang yang pasif dan hanya menunggu biasanya akan sering ketinggalan. Info lomba yang ditempelkan baik di fakultas maupun universitas seingkali baru ditempel ketika batas akhir pengiriman naskah sudah semakin mepet. Bagi pemula seperti saya yang butuh lama untuk berpikir dan menulis, waktu yang tersedia sering membuat saya mengundurkan diri sejak dini. Menyadari bahwa saya harus kreatif mencarinya sendiri, saya menjadi lebih rajin berburu informasi baik melalui media cetak maupun internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Finally,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; mungkin saya termasuk orang yang cukup beruntung dalam hal ini. Dalam beberapa tahun terakhir saya dapat mengakses begitu banyak informasi tentang lomba menulis meski saya tidak selalu mengikutinya. Sumber utama informasi saya saat ini adalah internet dan media cetak nasional khususnya Kompas. Keduanya membutuhkan kesabaran. Khusus untuk internet, kita harus pandai dan telaten menelesuri situs demi situs yang memuat informasi tentang lomba menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui internet juga kita bisa banyak menimba ilmu tentang menulis termasuk tentang lomba menulis seperti www.infolomba.wordpress.com dan www.infolomba.blogsome.com adalah situs yang paling sering saya kunjungi. Sesuai dengan namanya, situs ini memuat cukup banyak informasi lomba meski sekali lagi, tidak semua lomba khususnya lomba menulis termuat di dalamnya. Untuk meng-cover informasi lomba yang belum termuat, saya mengunjungi blog-blog para penulis. Biasanya, selain memuat tulisan tentang menulis, mereka juga memuat informasi tentang lomba menulis ataupun lowongan dari penerbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih pada para penulis dan blogger yang telah membagi ilmu dan informasinya. &lt;br /&gt;Tidak cukup sampai pada blog, saya juga harus rajin masuk ke situs media massa atau lembaga yang memang secara rutin mengadakan lomba menulis. Situs Bank Indonesia misalnya di www.bi.go.id. Informasi mengenai lomba biasanya langsung ada di halaman utama. Jadi tidak terlalu sulit mencarinya. Hanya saja, situs lembaga pemerintah yang satu ini tidak terlalu sering di up date sehingga dalam kurun waktu yang cukup lama, informasinya ya itu-itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber informasi lain yang selama ini sangat membantu saya adalah teman. Khususnya mereka yang memang yang suka menulis, rajin mengikuti lomba menulis dan pastinya memiliki akses besar terhadap lomba menulis. Mereka yang juga sangat mendukung hobi menulis saya juga sering memberikan informasi serupa. Pernah terjadi, saya mengikuti sebuah lomba menulis tanpa pernah melihat pengumuman resminya baik di media cetak maupun di internet. Semua informasi saya dapatkan dari sms seorang teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai sumber dan cara mendapatkan informasi mengenai lomba menulis sebagaimana saya sebutkan di atas, anda dapat mengambil beberapa kesimpulan untuk kemudian segera anda realisasikan jika anda tidak mau ketinggalan informasi. Karena informasi, adalah gerbang pertama menuju kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Tulisan yang Layak Menjadi Pemenang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa pertanyaan seputar lomba menulis yang sering ditanyakan rekan-rekan. Yang paling sering di antaranya adalah tulisan bagaimana yang biasanya menang? Pertanyaan lain yang juga acapkali ditanyakan adalah, bagaimana mendapatkan ide atau inspirasi tulisan, bagaimana menulisnya menjadi tulisan yang sistematis atau dari mana mendapatkan informasinya. Tentang informasi sudah kita bahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengamalan dan analisa saya terhadap beberapa tulisan yang berhasil menjadi pemenang, baik tulisan saya sendiri maupun teman-teman lain, ada beberapa ciri atau karakter khas yang membuatnya memiliki peluang besar dan layak untuk menang.&lt;br /&gt;Pertama, ide. Menurut saya inilah poin terpenting dalam tulisan yang membuatnya layak menjadi pemenang. Ide tidak harus selulu muluk dan bombastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa teman di LIPI yang pernah menjadi juri dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) mengatakan, mereka justru seringkali terpana pada ide-ide sederhana namun dibalik kesederhanaannya ia menyimpan makna besar yang mungkin terlupakan atau belum terpikirkan oleh kebanyakan orang. Secara sederhana, jika dewan juri atau masyarakat membaca, mereka akan berkata, “Oh, iya ya”. Ide juga tidak harus benar-benar baru. Tentu tak ada salahnya jika kita ingin memunculkan pemikiran atau ide yang sangat inovatif. Hanya saja yang perlu diingat, ide tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan atau didukung oleh argumen yang ilmiah. Jadi tidak asal berteori yang justru akan membuat tulisan ngawur dan bisa-bisa jadi boomerang jika itu dipresentasikan di depan audiens. Jadi, terus dan banyaklah berlatih agar bisa menangkap begitu banyak ide luar biasa yang bertebaran di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, data. Data adalah bahan dasar utama yang harus ada untuk meramu sebuah tulisan yang bagus. Karenanya data harus aktual, relevan dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Data yang bagus bisa berupa data statistic maupun data non-statitisk. Semakin banyak, semakin lengkap dan semakin ilmiah data yang kita gunakan maka akan semakin berbobot tulisan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pembahasan. Ide bagus dan data yang akurat hanya akan menjadi mozaik berserakan yang tidak jelas apa maksud dan kontribusinya terhadap suatu masalah jika kita tidak membahasnya dengan analisa yang mendalam dan ilmiah. Sering saya mengumpamakan menulis sebuah tulisan ilmiah populer seperti memasak. Setiap kita sebenarnya memiliki “bahan dasar” yang sama yakni data yang berserak di sekitar kita baik berupa teks maupun konteks. Yang membuat “masakan” kita berbeda dengan orang lain adalah bagaimana kita memasaknya, bagaimana kita membahasnya. Bahan boleh sama tapi masakan sangat mungkin berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, penulisan atau penyampaian. Jika data saya analogikan sebagai “bahan”, maka penulisan atau penyampaian kurang lebih sama seperti penyajian. Kadang-kadang masakan yang sederhana akan terlihat begitu istimewa jika disajikan sedemikian rupa. Tulisan yang berbobot akan memusingkan pembaca atau bahkan bisa mendistorsikan makna yang terkandung di dalamnya jika tidak disampaikan secara sistematis melalui bahasa yang enak dan mudah dipahami. Kemampuan pada tingkat ini merupakan bentuk profesionalitas penulis dalam menulis. Level tertinggi yang hanya akan dicapai oleh penulis melalui latihan yang terus menerus. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Practice make perfect&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, bukan sekedar teori. Perkembangan penulisan karya tulis ilmiah populer kini semakin pesat baik secara kualitas maupun kuantitas. Dalam tataran kualitas, bukan jamannya lagi hanya berteori atau berwacana meski dalam skup ilmu sosial. Bahkan pada kategori paling bawah sekalipun yakni kategori pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ide atau pemikiran yang dituangkan dalam sebuah tulisan tidak hanya bersifat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah tetapi juga memiliki nilai manfaat yang dapat direalisasikan dalam permasalahan yang tengah terjadi. Hal ini dikarenakan salah satu tujuan utama diadakannya lomba menulis adalah untuk mencari dan menampung ide-ide kreatif dan inovatif yang bisa dijadikan sebagai solusi alternative bagi suatu masalah actual yang tengah terjadi. Meski nilai manfaat dan aplikasi karya tulis ilmiah populer yang pada umumnya merupakan ilmu-ilmu social, tidak semudah menerapkan ilmu-ilmu pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Share of Experience: Bagaimana Saya Menulis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Jika mengenang kembali revolusi diri untuk bisa menulis, apa yang saya dapatkan sekarang, bisa menulis meski belum seberapa dan pernah menjuarai beberapa lomba menulis, rasanya tidak percaya ini bisa terjadi. Dulu, di pertengahan tahun 2001 ketika saya masih duduk di semester IV jurusan Hubungan Internasional di Universitas Jember, saya pernah memvonis diri tidak bisa menulis dan tidak akan pernah bisa menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis hanyalah kemampuan makhluk-makhluk jenius yang berotak encer, yang hobinya melahap buku-buku tebal dan mudah tanggap pada perubahan. Dan saya tidak bisa memenuhi satupun dari kualifikasi tersebut. Saya lamban dalam berpikir apalagi dalam mengambil keputusan dan memberi penilaian. Lebih suka melamun daripada membaca buku. Allah Maha Besar, tidak ada yang tidak mungkin meski tidak mudah mewujudkannya. Kemenangan itu akhirnya datang juga setelah melalui perjuangan dan kerja keras yang cukup lama. Dan keajaiban itulah yang sekarang ingin saya bagi pada Anda semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menulis baik menulis biasa maupun dalam rangka ikut serta dalam sebuah lomba karya tulis, ada beberapa langkah yang biasa saya lakukan untuk mempermudah proses menulis. Sejauh pengalaman saya selama ini, langkah-langkah tersebut cukup efektif membantu saya menyelesaikan sebuah tulisan. Dalam penjelasan berikut saya juga memberikan keterangan berapa lama waktu yang saya perlukan untuk masing-masing proses. Namun sebenarnya, berapa banyak waktu yang diperlukan bergantung pada kemampuan dan style masing-masing penulis selain tentu saja menyesuaikan dengan batas waktu yang ditentukan oleh panitia penyelenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Mempelajari Tema dan Mencari Ide&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Lomba menulis yang saya ikuti selama ini terdiri dari berbagai tema ilmu-ilmu sosial. Yang paling sering bertema social ekonomi. Selain itu pernah juga bertema tentang perbankan syariah, lingkungan hidup, hukum dan seni. Saya pernah juga sekali mencoba di bidang fiksi. Sepintas memang terlihat oportunis. Tapi saya mencoba bersikap selektif dan professional dalam mengikuti lomba menulis. Saya tidak akan memaksakan diri jika saya merasa tidak mampu atau tema yang sedang dilombakan benar-benar jauh dari jangkauan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tema lomba yang saya ikuti sangat beragam, ternyata saya hampir selalu menggunakan sudut pandang yang sama yakni politik sesuai dengan jurusan bidang studi kuliah saya. Barangkali karakter dan sudut pandang tulisan saya telah terbentuk sedikit demi sedikit seiring dengan proses belajar yang terus menerus baik dalam bidang tulis menulis maupun materi yang saya dapatkan di bangku kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak semua tema yang ditentukan panitia adalah bidang studi saya, bahkan sebagian besar justru bukan, maka hal pertama yang saya lakukan adalah berkontemplasi, mempelajari dan mengenal lebih jauh tentang tema yang ditentukan. Saya tanya diri sendiri apakah saya tertarik, apakah saya merasa sanggup mempelajarinya secara otodidak, apakah data yang mendukung bisa saya dapatkan dsb. Jika saya menjawab “ya” atau paling tidak “mungkin saja”, atau “berpeluang”, atau “mari kita coba”, saya akan melanjutkan pada proses berikutnya. Tapi jika jawabannya “tidak”, saya tidak akan memaksakan diri. Waktu yang diperlukan untuk berkontemplasi ini biasanya beberapa hari hingga satu minggu. Cukup lama juga ya?&lt;br /&gt;Tahap berikutnya adalah mencari tema atau ide dari tulisan yang akan saya buat. Saya menyebut tahapan ini sebagai proses pencarian inspirasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang ide tulisan muncul begitu saja tapi lebih sering saya harus mencarinya terlebih dahulu dengan susah payah. Pencarian ide saya lakukan dengan membaca realitas terkait dengan tema, baik melalui media massa maupun dalam kehidupan keseharian secara langsung. Pencarian ide saya lakukan juga melalui kajian tekstual berupa pemikiran, ide atau teori-teori terkait. Yang menjadi titik focus saya dalam dua pencarian ini, baik dari teks maupun konteks, adalah mencari jawaban atas permasalahan yang timbul, hal-hal baru (inovatif) atau hal-hal yang terlupakan yang berpeluang memberi manfaat atau peluang sebagai solusi alternative.&lt;br /&gt;Khusus untuk mencari ide-ide atau hal-hal yang sangat baru (up to date), saya tidak focus di dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa konsep atau teori terkadang baru diterapkan di negara-negara maju dan berpeluang untuk diadaptasi atau adopsi di negara kita. Apapun itu, sepanjang memiliki peluang untuk diterapkan dan dapat diaplikasikan serta memiliki nilai manfaat, tidak salahnya diambil sebagai ide untuk tulisan kita. Jika ide sudah saya dapat, saya akan menyederhanakannya dalam sebuah pertanyaan atau opini. Proses pencarian ide ini biasanya memakan waktu satu minggu. Bergantung pada tema yang ditentukan penyelenggara, apakah saya sudah cukup familiar dengannya atau sesuatu yang baru bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide atau tema utama seringkali saya gunakan sebagai judul. Jika awalnya berupa pertanyaan, saya ubah menjadi pernyataan. Atau lebih saya singkatkan dari ide aslinya. Pernah pula saya kehabisan ide untuk membuat judul sehingga saya menggunakan subtema yang ditentukan panitia sebagai judul tulisan saya. Namun seingat saya, saya hanya sekali melakukannya. Karena judul merepresentasikan isi tulisan, maka pilihlah kalimat yang singkat namun cukup memberi gambaran yang jelas kepada pembaca mengenai apa isi atau tema besar dalam tulisan kita. Dengan demikian, pembuatan judul bisa pula di akhir penulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Membuat Outline/Sketsa Tulisan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Tahapan berikutnya setelah menemukan ide adalah membuat kerangka, sketsa atau ouline tulisan. Formulasi yang biasa saya gunakan : ide-masalah-hipotesa-data-pembahasan-hasil/kesimpulan. Outline ini tak ubahnya sebuah peta tentang “perjalanan” menulis yang akan kita lalui.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Mencari Data&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya adalah proses pencarian data. Secara umum, data saya bagi dalam dua kelompok besar. Yakni data statistic dan data non statistic. Data statistic merupakan data yang berupa angka-angka seperti jumlah orang miskin, pengangguran, pendapatan negara dsb. Sementara untuk data non statistic bisa berupa konsep, teori atau opini oleh para pakar yang kompeten di bidangnya masing-masing. Kedua data ini baik data statistic maupun data non statistic sama pentingnya dan seringkali diperlukan secara bersamaan. Karenanya, semakin lengkap dan akurat data yang kita pakai maka akan semakin berbobot tulisan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet adalah sumber data yang utama dan pertama. Karena media yang satu ini mampu menembus dimensi ruang dan waktu. Sangat membantu kita yang tidak punya banyak buku apalagi jika ditambah dengan bertempat tinggal di daerah dengan fasilitas sumber data fisik yang relative terbatas. Meski demikian, saya tidak meninggalkan buku sebagai salah satu referensi utama jika memang memungkinkan khususnya terkait dengan teori dan konsep. Sumber data lain khususnya yang berupa data statistic, saya sangat mengandalkan media cetak. Kompas dan Jawa Pos di antaranya. Data statistic yang disajikan oleh media cetak biasanya sangat actual. Jika ingin mendapatkan data statistic yang lebih lengkap, data dari Biro Pusat Statistik (BPS) dapat menjadi rujukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memudahkan menyuplai data dalam setiap proses menulis, saya membuat semacam bank data dalam folder saya. Saya bagi dalam beberapa tema besar, misalnya tentang politik, ekonomi, perbankan syariah, pendidikan, kesehatan, kemiskinan, lingkungan hidup, dsb. Untuk data dalam bentuk grafik, diagram atau gambar, saya buat pos tersendiri sehingga jika sewaktu-waktu dibutuhkan tidak terlalu susah mencarinya. Bank data ini sangat membantu, karena satu data bisa digunakan untuk beberapa tema sekaligus bergantung pada sudut pandang dan pembahasan serta bagaimana kita menempatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Mengembangkan Outline dan Mengolah Data&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya adalah mengembangkan outline dan data yang didapat menjadi sebuah tulisan. Penulisan karya tulis ilmiah populer sedikit berbeda dengan karya tulis ilmiah murni seperti makalah ilmiah, skripsi, thesis atau disertasi. Dalam tulisan-tulisan ilmiah murni setiap item harus ditulis dengan jelas mulai dari latar belakang masalah, perumusan masalah, hipotesa, tujuan dan manfaat, kerangka konseptual dan seterusnya sampai penutup dan daftar pusaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk karya tulis ilmiah populer, sesuai dengan namanya, setiap item tersebut tidak harus selalu ada atau dituliskan secara eksplisit. Bahkan kita dapat menggabungkan beberapa item sekaligus dalam satu bagian tulisan. Bergantung pada jumlah halaman dan ketentuan teknis lain yang ditetapkan oleh panitia penyelenggara.   Mengenai jumlah halaman, untuk semua kategori kecuali wartawan, umumnya bisa digolongkan dalam tiga macam yakni sedikit, sedang dan banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;a. Kategori Sedikit&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Untuk kategori sedikit, umumnya berkisar antara 5-10 halaman atau bahkan maksimal hanya 3 atau 5 halaman. Ada beberapa keuntungan dan kelebihan dengan jumlah halaman yang sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya tidak membutuhkan banyak data dan proses penulisan bisa cepat selesai. Biasanya juga tidak memungkinkan untuk memuat cover, daftar isi dan daftar pustaka. Pertanggungjawaban terhadap penggunaan data bisa melalui catatan kaki yang singkat saja. Kelemahannya, karena space yang tersedia sedikit, kita harus pandai memilih data yang paling akurat dan tepat dari sekian banyak data yang kita punya. Sebagai contoh, cukup menggunakan satu teori dan atau satu konsep, ditambah satu atau dua data statistic. Sebaiknya hindari data dalam bentuk diagram atau gambar karena akan memakan banyak space.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selektivitas data juga diperlukan agar tetap tersedia ruang yang cukup untuk menampung pemikiran-pemikiran orisinil kita terhadap masalah yang tengah dibahas. Karenanya, diperlukan kemampuan memilih diksi kata untuk menyampaikan “ide besar” kita melalui bahasa yang singkat, padat namun jelas. Jika kemampuan kita dalam mengolah data dan kata masih belum optimal, bisa-bisa kita terjebak dalam pembahasan yang “mbulet” dan tak jelas apa pesan atau ide pokoknya. Karenanya banyaklah berlatih dan terus berlatih. Sebagai acuan untuk jenis tulisan ini adalah tulisan-tulisan yang dimuat dikolom opini surat kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;b. Kategori Sedang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Kategori sedang umumnya berkisar antara 10-15 halaman. Untuk jumlah halaman dalam kategori sedang ini, data yang diperlukan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah halaman yang lebih sedikit. Proporsi penggunaan data dan pemikiran orisinil kita kurang lebih berbanding 50:50. Seringkali saya menganggap jumlah maksimal halaman 10 atau 15 halaman, ketika akan mulai menulis adalah jumlah yang cukup banyak. Dan seringkali terjadi pula, jumlah halaman sebanyak ini tidak cukup menampung ide dan data yang saya dapatkan kemudian. Jika Anda menghadapi situasi yang sama, ide dan data kebanyakan, ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar tidak melanggar ketentuan penyelenggara. Pertama, selektif terhadap data, baik data statistic maupun data non-statistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih data yang paling lengkap dan actual serta paling relevan dengan ide yang akan Anda usung. Kepiawaian dalam memilih data akan mencerminkan sejauh mana profesionalitas Anda dalam menulis karya tulis ilmiah populer. Sekali lagi, banyaklah berlatih dan terus belajar. Kedua, jika setelah pemilihan data jumlah halaman masih melebihi batas maksimal, maka ubahlah data dalam bentuk diagram atau gambar menjadi uraian biasa tanpa mengurangi esensi dari data itu sendiri. Sebaliknya jika Anda menenui kesulitan untuk mencapai batas minimal jumlah halaman yang ditetapkan, gunakanlah lebih banyak data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, pilihlah data yang memang relevan untuk tulisan Anda, jangan asal comot. Efektifkan pula penggunaan catatan kaki atau catatan akhir. Dan yang paling baik adalah, membahas topic tulisan Anda selengkap dan sejelas mungkin. Untuk kategori sedang ini, cover, daftar isi dan daftar pustaka tidak selalu menjadi hal yang wajib. Anda dapat memanfaatkannya untuk memenuhi batas minimal halaman yang ditetapkan dengan catatan, panitia memperbolehkannya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kategori Banyak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Masuk dalam kategori banyak biasanya batas minimal 20 halaman dengan batas maksimal 30, 40 atau 50 halaman. Kategori ini dapat dikatakan berat karena tak ubahnya seperti membuat skripsi untuk mereka yang mahasiswa. Dan memang jumlah halaman yang banyak ini biasanya diperuntukkan untuk kategori mahasiswa dan umum. Dengan jumlah halaman yang banyak, biasanya item tulisan juga lengkap dan terkadang harus dituliskan secara lengkap pula. Sebagai contoh, pendahuluan, perumusan masalah, tujuan dan manfaat dan seterusnya hingga saran dan kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tulisan yang berhalaman banyak membutuhkan data yang relatif banyak baik berupa data statistic maupun data non-statistic. Sebagai acuan Anda dapat menggunakan skripsi yang berhalaman sedikit, kurang lebih berkisar 50-70 halaman. Dengan jumlah halaman yang banyak seperti ini, biasanya secara otomatis memerlukan cover, daftar isi dan daftar pustaka. Meski panitia tidak selalu mewajibkannya. Jika demikian, Anda bebas menentukan pilihan. Bergantung apakah Anda merasa membutuhkannya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih jelas mengenai masing-masing contoh untuk tiap-tiap kategori tulisan berdasarkan jumlah halaman, dapat dilihat pada halaman lampiran. Lampiran 1 adalah contoh tulisan untuk kategori tulisan berhalaman sedikit yakni tiga halaman. Lampiran 2 adalah contoh tulisan untuk kategori tulisan dengan jumlah halaman sedang yakni maksimal 15 halaman. Dan lampiran 3 adalah contoh untuk kategori tulisan berhalaman banyak yakni sebanyak 22 halaman. Ketiga contoh tersebut disajikan sesuai dengan bentuk aslinya sebagaimana saya kirimkan ke panitia penyelenggara.   Setelah mengetahui kategori jumlah halaman, karakter, kelebihan dan kekurangan tulisan yang akan Anda tulis, langkah selanjutnya ada menulis dan teruslah menulis hingga tulisan Anda jadi meski masih dalam bentuk kasar dan mungkin acak-acakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah masalah klasik seringkali muncul, bagaimana memulainya? Ide sudah ada bahkan data sudah cukup memadai tetapi kita merasa sulit dan bingung, dari mana memulai menulis.&lt;br /&gt;Ada satu teknik menulis yang diajarkan oleh dosen pembimbing skripsi saya, Bapak Agung Purwanto M.Si, tentang bagaimana memulai tulisan yang baik. Yakni dengan menggunakan metode epik. Suatu metode penulisan yang to the point, menuliskan pokok pikiran atau ide besar kita pada awal tulisan, pada kalimat pertama atau kedua pada paragraph pertama tulisan kita. Sejak saya tau metode ini, saya menggunakannya hingga sekarang untuk semua tulisan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata selain efektif, metode ini memberi keuntungan kepada kedua belah, baik penulis maupun pembaca. Dengan menuliskan ide utama kita di awal tulisan, biasanya kita lebih mudah melanjutkan tulisan karena “hal tersulit” dalam tulisan sudah kita tuliskan. Bagi pembaca sendiri, teknik penulisan yang to the point ini membantu mereka menemukan ide tulisan kita lebih cepat sehingga tidak menyusahkan dan membuang banyak waktu mereka.&lt;br /&gt;Dalam mengembangkan outline menjadi sebuah tulisan, tidak harus berurutan dimulai dari latar belakang masalah. Tulis saja apa yang ingin Anda tulis walaupun itu langsung pada pembahasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja Anda masih bingung mencari kata-kata untuk mendeskripsikan masalah, jangan jadikan ini penghalang untuk mulai menulis. Dan teruslah menulis hingga anda menyelesaikannya menjadi sebuah tulisan. Apapun bentuk dan hasilnya. Biasanya saya membutuhkan waktu antara 1-2 minggu untuk mengembangkan outline menjadi sebuah tulisan permulaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Finishing&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Proses terakhir adalah finishing atau penyempurnaan. Saya mengumpamakan proses ini seperti menyusun puzzle. Ya, tulisan yang sudah saya selesaikan saya anggap sebuah puzzle binatang yang masih berantakan karena asal jadi. Terkadang kaki ada di kepala, tangan kanan dan kiri tertukar dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finishing adalah suatu proses pembenahan dan penyempurnaan tulisan mencapai bentuk paling ideal dan maksimal yang bisa saya upayakan. Dalam proses ini biasanya saya mudah dilanda rasa lelah dan ingin segera mengakhiri sebelum tulisan itu sendiri selesai. Jika sudah menghadapi kondisi ini, sekuat tenaga saya menghimpun semangat agar tidak menyerah. Agar benar-benar tidak menyerah, saya mengingat kembali orang-orang atau peristiwa yang selama ini menjadi sumber inspirasi dan motivasi saya. Sering upaya ini cukup efektif membuat saya bertahan meski semangat tak bisa kembali seperti semula. Sebisa mungkin tulisan tetap terkirim baik melalui pos maupun email.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Pengalaman Menulis Fiksi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Untuk bidang fiksi, saya pernah mencoba sekali mengikuti sayembara menulis novel yang diselenggarakan oleh Mizan, tahun 2001 lalu. Lagi-lagi alasan utamanya adalah saya tidak ingin melewatkan kesempatan beraktualisasi. Kebetulan juga ketika itu saya sedang dalam proses pencarian jati diri dalam bidang menulis. Motivasi yang kedua adalah saya iseng ingin membuktikan penilaian seorang senior di kampus yang kebetulan intens dalam dunia tulis menulis. Saat membaca tulisan saya, beliau memberikan penilaian bahwa karakter tulisan saya cocok untuk tulisan fiksi khususnya novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspresi dan pengungkapan kata-katanya kuat dan mengalir, kurang lebih begitu pendapat beliau. Bah! Mana mungkin, pikir saya ketika itu.   Membaca fiksi saja saya tidak suka apalagi menulisnya. Mungkin karena sejak kecil bacaan saya berat dan serius, saya jadi sangat menyukai hal-hal yang berbau ilmiah yang memang serius dan berat bagi kebanyakan orang. Pernah saya mencoba menyukai fiksi, komik misalnya, yang konon kata banyak orang sangat membantu kita berimajinasi kreatif. Saat saya membacanya, saya tidak merasakan apa-apa, blank. Padahal yang lain bisa langsung tertawa terbahak-terbahak sejak halaman pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak begitu tertarik membaca fiksi, apa salahnya saya mencoba menulis novel. Siapa tau saya punya bakat terpendam yang belum tereksplorasi dalam bidang ini. Tantang saya pada diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dalam proses pencarian ide, saya seperti orang yang kehilangan arah pulang ke rumah. Kebingungan di tengah keramaian yang asing. Mungkin karena pertama kali mencoba menulis novel apalagi masih tergolong penulis sangat pemula sekali. Akhirnya saya memutuskan menovelkan diri sendiri dengan memunculkan tokoh-tokoh fiktif yang mewakili saya dan orang-orang yang terlibat dalam kisah sebenarnya. Wow, ternyata lebih sulit dari menulis karya tulis ilmiah populer. Apalagi penyelenggara mensyaratkan minimal 80 halaman. Jumlah yang sangat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencurahkan segenap ide dan tenaga untuk bisa menyelesaikan novel pertama saya itu. Saya pikir, jika tidak menang paling tidak ia akan menjadi semacam memoar bagi saya. Setiap hari saya menulis dan terus menulis antara 1-10 jam setiap harinya. Novel itu akhirnya selesai juga dalam waktu satu bulan sekaligus menghabiskan satu bulan uang saku saya. Tidak cukup sampai di situ, mungkin karena terlalu memforsir diri, stamina tubuh saya menurun bahkan saya harus ke dokter mata karena mata saya sakit. Mungkin akibat terlalu diforsir di depan komputer selama satu bulan. Saya memang tidak menang dalam sayembara menulis novel itu, tapi entah kenapa saya merasa tetap menjadi pemenang. Saya telah menjadi pemenang melawan diri sendiri dengan mengalahkan ego, kemalasan, kejenuhan dan rasa putus asa yang menyerang saya selama proses penulisan. Juga mitos yang saya ciptakan sendiri bahwa saya tidak bisa menulis fiksi.   (*) &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4631244775522277631-6417181821122733035?l=ririnhandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/feeds/6417181821122733035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2009/04/seluk-beluk-tentang-lomba-menulis.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/6417181821122733035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/6417181821122733035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2009/04/seluk-beluk-tentang-lomba-menulis.html' title='Seluk Beluk tentang Lomba Menulis'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17039732141393988364</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4631244775522277631.post-4895837747264827213</id><published>2009-04-10T19:50:00.000-07:00</published><updated>2009-04-10T20:04:59.966-07:00</updated><title type='text'>Welcome To My Blog</title><content type='html'>Hi all, senang akhirnya bisa punya "rumah inspirasi" dan "tempat untuk berbagi". Semoga kehadiran bermanfaat untuk kita semua. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4631244775522277631-4895837747264827213?l=ririnhandayani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/feeds/4895837747264827213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2009/04/welcome-to-my-blog.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/4895837747264827213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4631244775522277631/posts/default/4895837747264827213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ririnhandayani.blogspot.com/2009/04/welcome-to-my-blog.html' title='Welcome To My Blog'/><author><name>Ririn Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17039732141393988364</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
